Blog
ini ditujukan hanyalah untuk berbagi..
berbagi hal yang belum sempat terucapkan lewat kata-kata dan tertumpahkan dengan tulisan,,
Memulai jejak dalam sebuah tulisan.
Menorehkan tinta sejarah hingga ia dikenal nyata.

Sejarah kehidupan dalam sebuah bingkai.
Melompati setiap ekstase dengan semangat menyala.

Walau terkadang lampu - lampu jalanan turut menghiasi medan menuju setiap tahap kemenangan, pengharapan dan sebuah pembelajaran tentang Kebijaksanaan.

Semua tertuang untuk sebuah cerita.
Cerita hidup yang aku, kau dan kita adalah pelaku setianya.
Hingga kemudian Cahaya gemilang itu mampu kau renggut, kau peluk dengan tanganmu.

Jumat, 15 Februari 2013

#GerakanMenutupAurat #GerakanMemperbaikiDiri



Malam ini hujan turun dengan kadarnya yang sedikit, seperti gerimis namun lebih lama. Hujan seperti biasa, mampu menyihir hatiku untuk terus memanjatkan doa. Di tengah ketenangan hati dan kejernihan pikiran maka aku mencoba untuk menghilangkan penatku dengan berkumpul bersama sahabat-sahabat di kosanku. Walaupun hanya dengan mendengarkan, namun rasanya sangat menyenangkan dapat mengetahui cerita mereka lebih dalam ibarat menjelajah kedalam setiap cerita kehidupan dan menemukan banyak sekali pengalaman disana. Menimbulkan banyak inspirasi! Ya inspirasi dari cerita-cerita mereka.

Dimulai dari obrolan sana-sini sampai kepada mengingat masa-masa awal mengenakan hijab, sulitnya dan saat memperjuangkannya.

“waktu itu aku kelas 2 SMA, teman sebangkuku ternyata seorang yang berjilbab lebar, ia sering menyebut dirinya dan teman-temannya dengan sebutan akhwat, ya, tutur ia padaku kala itu. Aku yang cenderung tertutup dan pendiam, diam-diam kagum dengan sikapnya yang sopan dan berakhlak paripurna. Memang ia tetaplah temanku yang biasa, namun pribadinya sungguh luar biasa. Ia pun sering mengajakku pada kegiatan rohis, mengaji, dan kegiatan positif lainnya. Hingga kemudian pesonanya mampu membuatku terbujuk untuk menyamakan styleku dengannya. Aku ingin berhijab, menjilbabi tubuhku dan diriku. Bukan karena dia, tapi karena Islam dan Allah yang semakin ku kenal lewat perantara ia.”

“hmmmh...” sahabatku yang pertama ini mencoba mengatur nafas untuk tetap melanjutkan ceritanya yang terlihat begitu berkesan dihatinya.

“aku pun mulai mengutarakan keinginanku pada kedua orang tuaku. Mereka awalnya menolak, mereka bilang bahwa sangat tanggung waktunya jika aku mengenakan jilbab sekarang. Mereka ingin agar aku mengenakan jilbab selulusnya aku dari SMA..”

“aku sempat ngambek-ngambekan dengan orang tuaku. Akhirnya aku ceritakan masalahku ini kepada kakakku. Subhanallah, ia adalah orang pertama di rumahku yang mendukungku untuk mengenakan hijab. Ia pun memberikan uang hasil jerih payahnya padaku untuk menjahit baju sekolah panjang. Aku membutuhkan waktu 1 minggu  untuk menunggu jahitan baju, sampai-sampai saat hari pemakaian baju pramuka aku pun memaksa untuk sesegera mungkin mengambilnya pada sore sebelum hari pemakaian baju pramuka. Yah begitulah, semua terkesan serba memaksakan. Nah, pernah juga waktu itu ibuku menemaniku ke pasar mencari jilbab lebar. Ya, dulu kan sulit sekali ya dan jarang ada yang jual, jadi sempat keliling-keliling dulu. Saat lagi di pertengahan jalan, kami bertemu dengan teman ibuku, beliau nanya gini,

Wah ibu, mau kemana bu, ada yang dicari ya?

Iya nih, anakku mau cari jilbab lebar, haduh dimana juga ini..

Jawaban ibuku waktu itu dengan nada yang tidak setuju dan agak ketus, tapi dijawab lagi sama temen ibu gini,

Lho bagus kan bu, dari pada dia kepengennya cari rok mini.

Ibuku langsung terdiam. Yah, ada benarnya juga, mungkin dibenak beliau begitu kala itu.

Aku pun langsung bersyukur dalam hati, dan saat mengenakan hijab pertamaku, kalian tahu rasanya bagaimana. Aku merasa menjadi orang yang benar-benar merdeka, justru disaat seperti inilah aku merasakan hawa kebebasanku. Ibarat hati yang telah lama gersang baru disiram air segar dan menyegarkan.”

Antusias ia melanjutkan ceritanya, aku pun ikut-ikutan melebarkan mataku dan mengangguk-angguk setuju.

“yah, begitulah cerita awal hijabku yang penuh dengan unsur paksaan dan ngambekan.hehe”
Ujarnya terkekeh.

Kemudian ada lagi cerita sahabatku yang mengenakan hijab dengan alasan ia telah bernazar karena mendapatkan juara pertama di kelas selama 3 tahun berturut-turut. Sama seperti orang tua temanku sebelumnya, mereka tak mengizinkan anaknya berjilbab karena alasan nanggung. Nanti saja, kalau sudah lulus, atau bisa jadi jika kalaunya diteruskan akhirnya baru diizinkan saat sudah menikah dan punya anak. Namun karena ia mengatakan bahwa itu adalah sebuah nazar dan menjadi kewajiban yang harus segera ditunaikan, maka orang tuanya pun menyetujuinya, kami bertiga pun tertawa pelan, nazar seolah menjadi hal yang paling urgent, tanpa mengingat bahwa berhijab juga merupakan hal yang paling urgent, tentang ketaatan kita terhadap Tuhan, Allah SWT.

Kalau dibanding-bandingkan lagi dengan ceritaku, aku tak menemui banyak kesulitan untuk mengenakan hijab. Niatku sudah sejak SMP, namun karena pergaulan, aku tak memandang jilbab sebagai sebuah kewajiban, dan saat di SMA, niat itu pun kembali subur saat aku diperkenalkan dengan Rohis. Ayahku adalah orang yang paham agama, namun ia pun memberikan kebebasan bagi anak gadisnya untuk memilih jalan hidup meski ia turut mengambil peran sebagai penasehat dan pemberi contoh terbaik. Di antara ketiga anak gadisnya saat ini, tinggal kakak perempuan sulungku yang sudah menikah belum mengenakan hijabnya. Aku selalau berdoa untuk kebaikan baginya dan agar Allah memudahkan langkahnya untuk menunaikan kewajiban Allah yang satu ini. Aamiin.

Big Note

Banyak sekali cerita-cerita diluar sana yang lebih dahsyat sulitnya saat ia mempertahankan hijabnya. Cerita sahabatku ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cerita. Malam itu kudapatkan kembali cara untuk bersyukur lebih dalam kepada-Nya. Aku pernah mendapatkan jatuh bangun saat sedang berproses mencari jati diriku sebagai seorang Muslimah, yang justru sering kali menyisakan luka perih dan itu membutuhkan kekuatan luar biasa untuk bangkit kembali. Namun sekarang aku sangat bersyukur pada apa yang Allah kehendaki kepadaku, bahwa segalanya memang butuh proses, disanalah kita belajar akan indahnya kesabaran, keteguhan iman, kekuatan jiwa, kecintaan luar biasa kepada Rabb kita, Allah.

Banyak yang mengira bahwa aku memang sudah dari ‘lahir’ menjadi seorang muslimah dengan jilbab lebarnya. Namun layaknya frekuensi detak jantung yang fluktuatif, dulu aku pun mempunyai masa-masa terendah dalam iman. Saat SMP aku mengikuti kegiatan modern dance yang mengharuskan mengenakan baju yang serba mini, karena alasan latihan, capek dan sebagainya, shalat pun maghrib yang paling rajin, atau disaat moodku sedang sangat dan paling bagus-bagusnya, maka baru bisa full 5 waktu. Pernah di salah satu semester, rankingku menurun drastis dari 4 ke 11. Nilaiku memang tak menurun bahkan mengalami sedikit peningkatan, tetapi yang kemudian kusadari adalah aku tak mampu mengejar ketertinggalanku dan bersaing dengan teman-temanku yang lain. Memang orang tua tak pernah mempermasalahkan, yang mereka harap hanyalah kebahagiaan jalan hidup yang dipilih anak-anaknya.

Namun disinilah aku mengenal sahabat-sahabatku semasa SMP. Sahabat yang kuanggap saudara, namun harus berjarak pada akhirnya karena salah orientasi dalam berkawan, dan dari sinilah awalnya kami membentuk sebuah gank, kuakui memang gank kami termasuk yang bersaing dengan ‘gank-gank’ lainnya untuk mereguk kepopuleran di sekolah, walaupun memang aku yang paling pendiam dan ‘tak nampak’ di gank itu. Tapi pengaruhnya dapat kurasakan dengan jelas. Aku bersyukur jika dulunya aku merupakan anak yang pendiam, penurut, dan tak banyak tingkah, bahkan bisa dibilang super lugu (menurut teman-temanku). Jika diibaratkan dalam sebuah cerita sekelompok girl band, aku adalah tipe anak yang memakai kaca mata. Jika saja dulu aku sedikit merubah gaya dan penampilanku, berusaha tampak hebat dihadapan orang lain, maka mungkin tak ada cerita aku yang sekarang. Mungkin saja not only ada pacarnya but also sering gonta-ganti atau sibuk pada fashion dan mode remaja masa kini.

Aku bersyukur dengan diamnya aku, dengan lugunya aku (kata temen-temenku lho), Allah masih mengizinkanku untuk terus berprestasi dan menyalurkan energiku kepada hal-hal yang positif. Siapa bilang perjalanan dalam pertemananku berjalan mulus-mulus saja? Aku pernah merasa dikhianati dan dicampakkan atau bahkan diacuhkan. Namun itu tak menjadikanku pribadi yang minder dan rendah diri. Memang sulit pada awalnya, berusaha untuk tetap tersenyum namun hati sangat sakit bagai teriris.

Selepas kejadian itu aku justru belajar banyak hal, aku sama sekali tak membenci bahkan semakin mencintai saudara-saudaraku dengan cara berbeda. Memang aku tak mengambil banyak kembali tentang berkumpul dan banyak melakukan hal-hal bersama dalam pergaulan masa kemarin, aku memutuskan untuk keluar dari gank itu secara halus, awalnya memang sulit namun lama-lama saudaraku ini yang kemudian datang kembali menemuiku meminta maaf dan mengajak bergabung kembali dalam kelompok modern dance kami yang dulu. Awalnya aku ragu mengatakan hal ini dengan mereka, namun aku yakin dibalik niat kebaikan yang tulus ada Allah yang akan menjadi penolong utama. Sembari memberikan senyuman tulus persahabatanku pada mereka, kukatakan bahwa aku akan selalu terbuka menerima mereka kapan saja bahkan memang sudah dari dulu kuanggap sebagai saudara, tetapi aku tak dapat lagi berada dalam lingkaran itu lagi, singkatku. Aku tak menduga mereka hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Keesokan harinya teman-teman yang dulu juga sempat tak baik hubungannya denganku menjadi ramah dan rajin bertegur sapa denganku walau kemudian kami tak lagi sama jalannya, ia jalan menuju jalan popularitas dihadapan manusia, saya menuju jalan popularitas dihadapan Allah. Hehe. Memang IA-lah Maha Pembolak-balik hati manusia. Disini kemudian aku temukan kembali hikmah, bahwa Allah-lah satu-satunya tempat berharap dan meminta.

Aku tak semerta-merta kehilangan teman semenjak saat itu, namun kutemukan lebih banyak lagi teman-teman yang dapat menginspirasi. Kuakui kami memang terus bersaing, namun bersaing dalam hal-hal yang positif, saling mendukung tetap sportif. Aku kemudian terus mengembangkan hobiku dalam bidang tulis menulis dan melukis. Sering kali aku harus jatuh bangun, dan beberapa kali mengikuti berbagai lomba lukis dan kaligrafi kemudian mendapat juara. Hingga akhirnya aku sempat menjuarai lomba lukis tingkat provinsi kala itu. Saat itu menulis hanya kulakoni di tingkat sekolah menengat pertama saja, belum cetar bangets seperti di SMA nantinya. Hehe. Sesuatu yang kemudian saya pahami kembali, bersungguh-sungguhlah maka kau akan dapat hasilnya. Kalo sekarang ada buku+filmnya tuh. Ikonnya, Man jadda wajada, Man jadda wajada!! Ya, bukan yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguh.
Udah 4 page aja nih, hehe. Ya, begitulah kisah saya saat sedang berada di titik terendah dalam iman. Namun apa yang kemudian membuat saya berubah? Saya pernah teringat tentang kata-kata seorang bijak,

“jika kau berada dalam titik terendahmu, tak ada jalan lain lagi selain naik keatas.”

          Berkali-kali aku bersyukur atas nikmat Allah yang luar biasa hadir kepadaku, satu lagi yang kemudian saya pahami. Nikmat tak selalu berupa kesenangan, namun tentang segala hal termasuk ujian yang dapat membuatmu semakin mendekat kepada-Nya.

        Saya sangat ingin menulis tentang kisah jatuh bangunnya saya saat SMA yang lebih kompleks lagi dalam artikel ini, namun saya tidak ingin menjadi terlalu terburu-buru, biar to be continued aja. Hehe.
Tentang kapan saya mulai mengenakan hijab, dimulai sejak saya naik kelas 2 SMA ß Just clue.

“yaa muqollibal quluub, tsabit qolbi’aladdiinik”
“Wahai Yang Maha Membolak-balikan hati manusia, tetapkanlah kami pada agama-Mu”







--> catatan lama yang bersarang di laptop..

4 komentar:

  1. Suka catatan ini... Betapa Allah menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukron ya ukhti.. Rabbana tudzighkulubana ba'da hadaytana..

      Hapus
    2. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz Hadaytana wa Hablanaa milladunka rahmatan innaka antal wahhaab

      "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".

      Hapus
  2. astaghfirullah..salah arti postingan cy og..dk ada laa nya n n kacau kata per kata.. syukron ya ukh:)

    BalasHapus