Blog
ini ditujukan hanyalah untuk berbagi..
berbagi hal yang belum sempat terucapkan lewat kata-kata dan tertumpahkan dengan tulisan,,
Memulai jejak dalam sebuah tulisan.
Menorehkan tinta sejarah hingga ia dikenal nyata.

Sejarah kehidupan dalam sebuah bingkai.
Melompati setiap ekstase dengan semangat menyala.

Walau terkadang lampu - lampu jalanan turut menghiasi medan menuju setiap tahap kemenangan, pengharapan dan sebuah pembelajaran tentang Kebijaksanaan.

Semua tertuang untuk sebuah cerita.
Cerita hidup yang aku, kau dan kita adalah pelaku setianya.
Hingga kemudian Cahaya gemilang itu mampu kau renggut, kau peluk dengan tanganmu.

Jumat, 15 Februari 2013

#GerakanMenutupAurat #GerakanMemperbaikiDiri



Malam ini hujan turun dengan kadarnya yang sedikit, seperti gerimis namun lebih lama. Hujan seperti biasa, mampu menyihir hatiku untuk terus memanjatkan doa. Di tengah ketenangan hati dan kejernihan pikiran maka aku mencoba untuk menghilangkan penatku dengan berkumpul bersama sahabat-sahabat di kosanku. Walaupun hanya dengan mendengarkan, namun rasanya sangat menyenangkan dapat mengetahui cerita mereka lebih dalam ibarat menjelajah kedalam setiap cerita kehidupan dan menemukan banyak sekali pengalaman disana. Menimbulkan banyak inspirasi! Ya inspirasi dari cerita-cerita mereka.

Dimulai dari obrolan sana-sini sampai kepada mengingat masa-masa awal mengenakan hijab, sulitnya dan saat memperjuangkannya.

“waktu itu aku kelas 2 SMA, teman sebangkuku ternyata seorang yang berjilbab lebar, ia sering menyebut dirinya dan teman-temannya dengan sebutan akhwat, ya, tutur ia padaku kala itu. Aku yang cenderung tertutup dan pendiam, diam-diam kagum dengan sikapnya yang sopan dan berakhlak paripurna. Memang ia tetaplah temanku yang biasa, namun pribadinya sungguh luar biasa. Ia pun sering mengajakku pada kegiatan rohis, mengaji, dan kegiatan positif lainnya. Hingga kemudian pesonanya mampu membuatku terbujuk untuk menyamakan styleku dengannya. Aku ingin berhijab, menjilbabi tubuhku dan diriku. Bukan karena dia, tapi karena Islam dan Allah yang semakin ku kenal lewat perantara ia.”

“hmmmh...” sahabatku yang pertama ini mencoba mengatur nafas untuk tetap melanjutkan ceritanya yang terlihat begitu berkesan dihatinya.

“aku pun mulai mengutarakan keinginanku pada kedua orang tuaku. Mereka awalnya menolak, mereka bilang bahwa sangat tanggung waktunya jika aku mengenakan jilbab sekarang. Mereka ingin agar aku mengenakan jilbab selulusnya aku dari SMA..”

“aku sempat ngambek-ngambekan dengan orang tuaku. Akhirnya aku ceritakan masalahku ini kepada kakakku. Subhanallah, ia adalah orang pertama di rumahku yang mendukungku untuk mengenakan hijab. Ia pun memberikan uang hasil jerih payahnya padaku untuk menjahit baju sekolah panjang. Aku membutuhkan waktu 1 minggu  untuk menunggu jahitan baju, sampai-sampai saat hari pemakaian baju pramuka aku pun memaksa untuk sesegera mungkin mengambilnya pada sore sebelum hari pemakaian baju pramuka. Yah begitulah, semua terkesan serba memaksakan. Nah, pernah juga waktu itu ibuku menemaniku ke pasar mencari jilbab lebar. Ya, dulu kan sulit sekali ya dan jarang ada yang jual, jadi sempat keliling-keliling dulu. Saat lagi di pertengahan jalan, kami bertemu dengan teman ibuku, beliau nanya gini,

Wah ibu, mau kemana bu, ada yang dicari ya?

Iya nih, anakku mau cari jilbab lebar, haduh dimana juga ini..

Jawaban ibuku waktu itu dengan nada yang tidak setuju dan agak ketus, tapi dijawab lagi sama temen ibu gini,

Lho bagus kan bu, dari pada dia kepengennya cari rok mini.

Ibuku langsung terdiam. Yah, ada benarnya juga, mungkin dibenak beliau begitu kala itu.

Aku pun langsung bersyukur dalam hati, dan saat mengenakan hijab pertamaku, kalian tahu rasanya bagaimana. Aku merasa menjadi orang yang benar-benar merdeka, justru disaat seperti inilah aku merasakan hawa kebebasanku. Ibarat hati yang telah lama gersang baru disiram air segar dan menyegarkan.”

Antusias ia melanjutkan ceritanya, aku pun ikut-ikutan melebarkan mataku dan mengangguk-angguk setuju.

“yah, begitulah cerita awal hijabku yang penuh dengan unsur paksaan dan ngambekan.hehe”
Ujarnya terkekeh.

Kemudian ada lagi cerita sahabatku yang mengenakan hijab dengan alasan ia telah bernazar karena mendapatkan juara pertama di kelas selama 3 tahun berturut-turut. Sama seperti orang tua temanku sebelumnya, mereka tak mengizinkan anaknya berjilbab karena alasan nanggung. Nanti saja, kalau sudah lulus, atau bisa jadi jika kalaunya diteruskan akhirnya baru diizinkan saat sudah menikah dan punya anak. Namun karena ia mengatakan bahwa itu adalah sebuah nazar dan menjadi kewajiban yang harus segera ditunaikan, maka orang tuanya pun menyetujuinya, kami bertiga pun tertawa pelan, nazar seolah menjadi hal yang paling urgent, tanpa mengingat bahwa berhijab juga merupakan hal yang paling urgent, tentang ketaatan kita terhadap Tuhan, Allah SWT.

Kalau dibanding-bandingkan lagi dengan ceritaku, aku tak menemui banyak kesulitan untuk mengenakan hijab. Niatku sudah sejak SMP, namun karena pergaulan, aku tak memandang jilbab sebagai sebuah kewajiban, dan saat di SMA, niat itu pun kembali subur saat aku diperkenalkan dengan Rohis. Ayahku adalah orang yang paham agama, namun ia pun memberikan kebebasan bagi anak gadisnya untuk memilih jalan hidup meski ia turut mengambil peran sebagai penasehat dan pemberi contoh terbaik. Di antara ketiga anak gadisnya saat ini, tinggal kakak perempuan sulungku yang sudah menikah belum mengenakan hijabnya. Aku selalau berdoa untuk kebaikan baginya dan agar Allah memudahkan langkahnya untuk menunaikan kewajiban Allah yang satu ini. Aamiin.

Big Note

Banyak sekali cerita-cerita diluar sana yang lebih dahsyat sulitnya saat ia mempertahankan hijabnya. Cerita sahabatku ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cerita. Malam itu kudapatkan kembali cara untuk bersyukur lebih dalam kepada-Nya. Aku pernah mendapatkan jatuh bangun saat sedang berproses mencari jati diriku sebagai seorang Muslimah, yang justru sering kali menyisakan luka perih dan itu membutuhkan kekuatan luar biasa untuk bangkit kembali. Namun sekarang aku sangat bersyukur pada apa yang Allah kehendaki kepadaku, bahwa segalanya memang butuh proses, disanalah kita belajar akan indahnya kesabaran, keteguhan iman, kekuatan jiwa, kecintaan luar biasa kepada Rabb kita, Allah.

Banyak yang mengira bahwa aku memang sudah dari ‘lahir’ menjadi seorang muslimah dengan jilbab lebarnya. Namun layaknya frekuensi detak jantung yang fluktuatif, dulu aku pun mempunyai masa-masa terendah dalam iman. Saat SMP aku mengikuti kegiatan modern dance yang mengharuskan mengenakan baju yang serba mini, karena alasan latihan, capek dan sebagainya, shalat pun maghrib yang paling rajin, atau disaat moodku sedang sangat dan paling bagus-bagusnya, maka baru bisa full 5 waktu. Pernah di salah satu semester, rankingku menurun drastis dari 4 ke 11. Nilaiku memang tak menurun bahkan mengalami sedikit peningkatan, tetapi yang kemudian kusadari adalah aku tak mampu mengejar ketertinggalanku dan bersaing dengan teman-temanku yang lain. Memang orang tua tak pernah mempermasalahkan, yang mereka harap hanyalah kebahagiaan jalan hidup yang dipilih anak-anaknya.

Namun disinilah aku mengenal sahabat-sahabatku semasa SMP. Sahabat yang kuanggap saudara, namun harus berjarak pada akhirnya karena salah orientasi dalam berkawan, dan dari sinilah awalnya kami membentuk sebuah gank, kuakui memang gank kami termasuk yang bersaing dengan ‘gank-gank’ lainnya untuk mereguk kepopuleran di sekolah, walaupun memang aku yang paling pendiam dan ‘tak nampak’ di gank itu. Tapi pengaruhnya dapat kurasakan dengan jelas. Aku bersyukur jika dulunya aku merupakan anak yang pendiam, penurut, dan tak banyak tingkah, bahkan bisa dibilang super lugu (menurut teman-temanku). Jika diibaratkan dalam sebuah cerita sekelompok girl band, aku adalah tipe anak yang memakai kaca mata. Jika saja dulu aku sedikit merubah gaya dan penampilanku, berusaha tampak hebat dihadapan orang lain, maka mungkin tak ada cerita aku yang sekarang. Mungkin saja not only ada pacarnya but also sering gonta-ganti atau sibuk pada fashion dan mode remaja masa kini.

Aku bersyukur dengan diamnya aku, dengan lugunya aku (kata temen-temenku lho), Allah masih mengizinkanku untuk terus berprestasi dan menyalurkan energiku kepada hal-hal yang positif. Siapa bilang perjalanan dalam pertemananku berjalan mulus-mulus saja? Aku pernah merasa dikhianati dan dicampakkan atau bahkan diacuhkan. Namun itu tak menjadikanku pribadi yang minder dan rendah diri. Memang sulit pada awalnya, berusaha untuk tetap tersenyum namun hati sangat sakit bagai teriris.

Selepas kejadian itu aku justru belajar banyak hal, aku sama sekali tak membenci bahkan semakin mencintai saudara-saudaraku dengan cara berbeda. Memang aku tak mengambil banyak kembali tentang berkumpul dan banyak melakukan hal-hal bersama dalam pergaulan masa kemarin, aku memutuskan untuk keluar dari gank itu secara halus, awalnya memang sulit namun lama-lama saudaraku ini yang kemudian datang kembali menemuiku meminta maaf dan mengajak bergabung kembali dalam kelompok modern dance kami yang dulu. Awalnya aku ragu mengatakan hal ini dengan mereka, namun aku yakin dibalik niat kebaikan yang tulus ada Allah yang akan menjadi penolong utama. Sembari memberikan senyuman tulus persahabatanku pada mereka, kukatakan bahwa aku akan selalu terbuka menerima mereka kapan saja bahkan memang sudah dari dulu kuanggap sebagai saudara, tetapi aku tak dapat lagi berada dalam lingkaran itu lagi, singkatku. Aku tak menduga mereka hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Keesokan harinya teman-teman yang dulu juga sempat tak baik hubungannya denganku menjadi ramah dan rajin bertegur sapa denganku walau kemudian kami tak lagi sama jalannya, ia jalan menuju jalan popularitas dihadapan manusia, saya menuju jalan popularitas dihadapan Allah. Hehe. Memang IA-lah Maha Pembolak-balik hati manusia. Disini kemudian aku temukan kembali hikmah, bahwa Allah-lah satu-satunya tempat berharap dan meminta.

Aku tak semerta-merta kehilangan teman semenjak saat itu, namun kutemukan lebih banyak lagi teman-teman yang dapat menginspirasi. Kuakui kami memang terus bersaing, namun bersaing dalam hal-hal yang positif, saling mendukung tetap sportif. Aku kemudian terus mengembangkan hobiku dalam bidang tulis menulis dan melukis. Sering kali aku harus jatuh bangun, dan beberapa kali mengikuti berbagai lomba lukis dan kaligrafi kemudian mendapat juara. Hingga akhirnya aku sempat menjuarai lomba lukis tingkat provinsi kala itu. Saat itu menulis hanya kulakoni di tingkat sekolah menengat pertama saja, belum cetar bangets seperti di SMA nantinya. Hehe. Sesuatu yang kemudian saya pahami kembali, bersungguh-sungguhlah maka kau akan dapat hasilnya. Kalo sekarang ada buku+filmnya tuh. Ikonnya, Man jadda wajada, Man jadda wajada!! Ya, bukan yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguh.
Udah 4 page aja nih, hehe. Ya, begitulah kisah saya saat sedang berada di titik terendah dalam iman. Namun apa yang kemudian membuat saya berubah? Saya pernah teringat tentang kata-kata seorang bijak,

“jika kau berada dalam titik terendahmu, tak ada jalan lain lagi selain naik keatas.”

          Berkali-kali aku bersyukur atas nikmat Allah yang luar biasa hadir kepadaku, satu lagi yang kemudian saya pahami. Nikmat tak selalu berupa kesenangan, namun tentang segala hal termasuk ujian yang dapat membuatmu semakin mendekat kepada-Nya.

        Saya sangat ingin menulis tentang kisah jatuh bangunnya saya saat SMA yang lebih kompleks lagi dalam artikel ini, namun saya tidak ingin menjadi terlalu terburu-buru, biar to be continued aja. Hehe.
Tentang kapan saya mulai mengenakan hijab, dimulai sejak saya naik kelas 2 SMA ß Just clue.

“yaa muqollibal quluub, tsabit qolbi’aladdiinik”
“Wahai Yang Maha Membolak-balikan hati manusia, tetapkanlah kami pada agama-Mu”







--> catatan lama yang bersarang di laptop..

Sabtu, 01 Desember 2012

Bekerja dengan Hati

Siang ini dengan aktivitas biasa, setelah mengkaji status kesehatan nenek yang saya rawat, bersama teman-teman yang lain, saya mengadakan penyuluhan. 
Kebetulan saat ini saya sebagai leader (red: trainer) nya..e ciee...hee

Konsep acara yang sederhana berusaha saya bawa agar terkesan menarik dan menyenangkan. 
Konsep penyuluhan kami selipkan juga dengan terapi relaksasi, yakni terapi musik terbimbing. 
Hasilnya, diluar dugaan, kakek dan nenek yang kami suluh merasakan keadaan yang nyaman dan senang, bahkan hingga acara berakhir pun mereka tetap duduk di tempat dan berbincang-bincang dengan kami, yang biasanya pada setiap acara, mereka gampang sekali mengalami kejenuhan.

Kesuksesan program penyuluhan dan terapi aktivitas kelompok ini pun dirasakan oleh teman kelompok kami yang lain, meski ada juga teman dari luar institusi yang terlihat kaku dan cenderung biasa-biasa saja ketika mengisi program.

Hingga sampai pada proses akhir, kami pun mengevaluasi hal apa yang telah kami lakukan sehingga tidak hanya membuat sasaran menjadi senang dan nyaman melainkan kami pun merasakan hal yang sama. 

Konsep yang kami bawa seperti orang kebanyakan, pun dengan materi-materinya. Tapi ternyata ada hal yang tak pernah kami lewatkan saat memberi materi, yakni tersenyum dan bergembira dari hati. Segala hal yang kami lakukan adalah untuk demi kebaikan kakek dan nenek semata, Insyaallah..

Kegembiraan yang saya perhatikan terpancar dari mata dan ekspresi teman-teman. 
Hingga kegembiraan itu menular pada yang lain, terutama kakek dan neneknya.

Satu hal yang kemudian saya pahami adalah pentingnya bekerja dengan hati, bekerja karena ingin senantiasa mengharapkan keridhoan dari Allah SWT, istilah yang sering disebut orang umum dengan sebutan "Ikhlas".

Pagi itu kami juga sempat berbincang-bincang dengan salah satu nenek di ruang perawatan khusus (disebut ruang isolasi, dulunya), jika teman-teman melihat kondisi kakek dan nenek disana mungkin tak kan sanggup pada awalnya sebelum mereka sama sekali belum diberikan perawatan oleh teman-teman mahasiswa, semua aktivitas mereka lakukan di tempat yang sama, di atas kasur yang hanya satu-satu itu juga, makan, minum, BAK, BAB, muntah, tak bisa terbayangkan bagaimana kondisinya.

Mereka kemudian mengatakan, 
"cung, makasih atas bantuannya. makasih banyak yo atas kepedulianmu cung, sini nenek doakan..." 
atau ada juga,
"cung, memang senang kami kalo diberi makanan, roti-roti atau apolah yang sering dikasih ke kami tu. Tapi kami lebih senang samo kepedulianmu ini cung, ya seperti perlakuan kalian ni ke kami."
atau,
"Pak kepala dinas, cobo masuk dulu ke wisma kami ni, minta lah kami ni tv sikok, anak-anak Unsri ni cuma sementara be paca ngehibur kami disini, habis itu manggut-manggut lagi kami dakdo yang hibur.."
atau,
"alhamdulillah, terima kasih atas yang kalian lakukan, kakek merasa sangat senang dan tenteram, hanya Allah yang dapat membalas kebaikan kalian cung."
atau,
"aku buat susah yo cung, aku buat susah yo cung, kalian susah gara- gara aku..." 
 dsb...

Kalimat terakhir ini adalah dari seorang nenek yang sudah dua kali bocor kepalanya karena jatuh di kamar mandi karena fungsi tubuh yang tak seimbang lagi. 
Setiap kami datang untuk memandikan dan merawatnya, nenek tersebut juga selalu bersedih karena merasa membebani orang lain, namun keringat berpeluh dan bau tak sedap dari wisma dihapus dengan tatapan tulus dan senyuman hangat yang teman-teman hadiahkan buat mereka setiap kali perawatan dilakukan.

Jika pekerjaan ini telah kita cintai, telah menjadi bagian dari hati yang tulus untuk berbuat demi kebaikan orang lain, maka kau pun seyogyanya telah bekerja dengan hati.
Jika boleh mengulang kata-kata pembimbing lahan,
"ubahlah persepsi, dari ada pasien maka ada perawat, menjadi ada perawat maka ada pasien"
Maksudnya bukanlah untuk menyumpahi agar banyak yang sakit, namun ada atau tidaknya pasien, kita tetaplah seorang perawat, yang dengan ketulusan dan ilmunya dapat bermanfaat buat orang lain.

Begitupun dengan saya yang semakin mencintai profesi ini, saat dimana kita dapat mempersembahkan hal terbaik buat orang lain dan orang lain berbahagia akan hal itu, maka itu lah puncak termanis dari semua pekerjaan yang kita lakukan.

Meski pada dasarnya kelak saya pribadi pun ingin dan lebih suka banyak menyediakan waktu untuk generasi penerus saya nanti dirumah dan menyemangati belahan jiwa (eh), namun beramal utnuk orang lain juga merupakan jembatan kita untuk menumpahkan ilmu yang telah kita tempuh cukup lama. Maka dari itu usaha Rumah Sehat menjadi mimpi yang nantinya akan menjadi nyata (aamiin) untuk memberikan yang terbaik buat orang lain selain membuka lapangan kerja sekaligus lapangan dakwah. Aamiin Ya Rabb..

Bekerjalah dengan hatimu, jangan pernah takut ditempatkan dimanapun kau kini. Yang buruk menurutmu bisa jadi baik menurut Allah, yang baik menurutmu juga belum tentu baik dimata Allah.

 Maka bersyukurlah dengan apa yang ada, jalanilah dahulu segalanya sebelum mengeluh akan sesuatu hal yang kita pun tak tahu akhirnya. Banyak yang berhasil di lahan yang awalnya ia tak suka karena tak ingin mencoba mendalaminya. Tapi ketika mereka diberikan kesempatan dan mulai mencintai pekerjaannya, maka rezeki dan hadiah dari langit pun bertubi-tubi berjatuhan dalam rumahnya.



"I am a nurse. It is my duty to learn all the knowledge I possibly can so that I might attain the goal of preserving health. It is my desire to make myself accessible to all peoples so that health becomes a goal of theirs too. I believe in God. I believe in the quality of life, and the integrity of humanity. I believe in being nonjudgmental, and I believe in the rights of humans. I believe in my profession. I believe in being a Nurse."

 Saya seorang perawat. Ini adalah tugas saya untuk mempelajari semua pengetahuan yang saya bisa sehingga saya dapat mencapai tujuan dalam menjaga kesehatan. Ini adalah keinginan saya untuk membuat diri saya dapat diakses oleh semua orang, sehingga kesehatan menjadi tujuan mereka juga. Saya percaya pada Tuhan. Saya percaya pada kualitas hidup, dan integritas kemanusiaan. Saya percaya bahwa kami harus tidak menghakimi, dan saya percaya pada hak-hak manusia. Saya percaya dalam profesi saya. Saya percaya bahwa kami adalah seorang Nurse.


Jargon hari ini:
Bekerja dengan hati, Raih Ridho Illahi..:)

 STOP MENGELUH !!!

Fotografer : M.A.R
Model diambil dari kalangan sendiri
 
Tentang foto di atas, ceritanya tuh beliau gak suka di foto, eh terus pas lagi nolak saya fotoin, gini deh hasilnya.hehe...semuanya bisa menjadi sumber inspirasi^^


Jadi Ners itu, kayak gini bukan ya??
 Sb: Komik-muslimah.com
 hihihi....^^

Pokoknya, Apapun profesi anda, Bekerja dengan hati adalah modal utama! Ilmu juga:)









01-12-12
16.00 WIB
at Kosan tetangga, tetangganya lagi nonton film horor sama si dedek, berhubung saya banyaklah nutup muka daripada nonton, mending saya nulis aja :)

Senin, 26 November 2012

Tentang Rindu dalam Hujan

Tentang rindu dalam hujan...

Tahukah kau, saat ini aku sedang menyimpan rindu yang begitu dalam..
Tentang rindu yang tak pernah terjawab..
Tentang rindu yang mungkin pernah kau mengalaminya..
Memang sakit rasanya jika rindu tak terbalas..
Memang pilu jika rindu menjelma jadi bongkahan batu yang rapuh..

Namun semakin kuhapus ia bersama basahnya hujan,
maka ia semakin mengkristal menjadi intan..
Kuat dan sulit tercerai..

Semakin rindu itu kujauhkan, semakin aku terbenam,
dalam kesedihan mendalam,
Semakin kutapis rindu, semakin sulit nafasku terhembuskan..

Memang beginilah jika rindu tak tersampaikan,
bagai air yang jatuh kedalam tanah,
namun tak muncul ke permukaan..

Entah air ataukah hujan ataukah mendung,
yang menyelarasi akan rindu yang semakin dalam,
entah hatiku yang terlalu rapuh,
atau jiwaku yang terlalu lembut,
Rindu itu kini bagai liat atau mungkin lumpur yang menggenang..

Hanya IA yang akan menjamin rindu..
Hingga sampai diakhir jawaban..
Hati ini hanya siap untuk memutuskan,
menyimpan rindu pada tempatnya berada,
menumpahkan rindu karena Cinta-NYA..

Semakin kuteriakkan rindu..
semakin aku tahu pada siapa rindu ini harus kuberikan..
Aku rindu pada makhluk, namun aku lebih rindu padamu,
Aku rindu pada jawaban, namun aku lebih rindu pada bahasa cintamu..
Rasulullah..aku rindu padamu,
Aku rindu pada hangat cinta-Mu pada ummatmu..
Yang hidup jauh setelah wafatmu...
Namun begitu merinduimu dan Allah, Tuhanku....
Ya Allah, aku rindu pada ayat-ayat cinta yang kau lafalkan pada Kekasih-Mu..
Aku rindu, aku rindu, aku rindu......

Hadirkan padaku jiwa dan hati yang dapat membimbingku,
menuju cinta-Mu,
menggapai berkah-Mu..
Karena aku masih setia menanti hadir wujudnya,
menanti jawaban cinta dari-Mu, Engkau Ya Rabb-ku...


Kata mereka:
"Kalau rindu itu berbentuk hujan.
Mungkin di tempatmu sekarang, hujan akan mengalir deras,
karena ia mengirimkan pesan-pesan rindu tiada henti.
Kalau rindu berbentuk senja.
Kujamin malam takkan datang, dan matahari akan tetap bertahan,
menyampaikan rindu dalam semburat cahayanya.
Tapi walau rindu itu seindah senja dengan semburat cahayanya atau hujan dengan bau romantisnya.
Aku tetap akan memilih rindu dalam bentuk doa.
Karena pesan akan selalu lebih indah jika tersampaikan langsung melalui-Nya.
Langsung menyelinap ke dalam relung hatimu yang terdalam, mengingatkan bahwa aku ada..."
*rindu....ya, rindu...*

Tentang hujan yang menyembunyikan air mata kerinduan,
Tentang rindu, dari sang sanguinis yang sedang melankolis..


Senin, 08 Oktober 2012

Mental Hadapi Dunia Pasca kampus (disertai analisis IpeKa.he)

Alhamdulillah.. Segala Puji bagi Allah yang mengaruniakan Nikmat-Nya.

Sungguh, saya sudah merasa berdosa banget sama nih Blog, saking lamanya nggak dibuka-buka. Untung gak lumutan ya..cuma debuan.hehe

Sebelum ngebuka nih blog (yang akhirnya bisa dibuka juga. Makasih Ya Allah..:)..), sempet keliling-keliling dulu, muter-muter en ngecek kabarnya blog temen-temen satu-satu. 
Ada yang rajin banget nge-blog, tulisan-tulisannya menginspirasi, ada juga yang nasibnya sama kayak blog saya, jarang diposting.he

Yang buat saya kagum nih, sama blog dan cerita-cerita dari sahabat saya ----> Muth El Hadi .. Salut dengan perjuanganmu saudariku.. Kau banyak memberikan inspirasi buatku. Mimpi - mimpimu itu kau raih dengan perlahan namun pasti. Saya yakin, engkau kelak akan menjadi orang besar. Orang hebat yang akan membuktikan mimpi-mimpinya pada orang banyak. Terus dan tetap berjuang ya! Luv u..^__^ (ehm, bunganya manaaaaa...hehe)

Oke, hari ini isi blognya tentang sebuah pembelajaran. Belajar darimu yang menginspirasi..

Oh iya ya, cuma mau ngasih tahu. Tepatnya tanggal 27 September 2012 kemarin saya wisuda, wisuda ke 104 Universitas Sriwijaya, meski udah lama status dinisbahkan sebagai Sarjananya, tepatnya tanggal 10 Agustus, tapi kayaknya belum afdol kao belum di wisuda.he

Cuma mau ngasih tau aja nih. Ngaku deh, wisuda itu pasti sesuatu hal yang paling dinanti-nanti oleh seluruh ummat mahasiswa, bahkan sekarang udah pada syndrom pengen cepet-cepet aja tuh selesai, kalo bisa dua tahun deh. iya gak..hehe
Emang sih, pas wisudanya, hari-H nya, rasanya seneeeeeeeeng banget.. kalo kata pepatah tuh, ilmu 4 tahun dihapus wisuda sehari.he..gak dink.. Apalagi kalo ada yang ngasih bunga, boneka, dll.. wih,, pasti bakalan seneng banget deh. Oh iya, makasih ya buat sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku, teman-temanku..atas hadiahnya... hadiah - hadiah tulus darimu menjadi motivasi tersendiri buat saya dan buatmu. Mengingatkan juga bahwa bagian terpenting itu selain kompetensi adalah JARINGAN, inget Jaringan alias Networking. Penting banget buat dunia pasca kampus... Menjalin silaturahim.. karena dari silaturahimlah rezeki-rezeki kita yang masih menggantung di langit berjatuhan ibarat hujan.

Semua kebahagiaan-kebahagiaan diatas cuma berlangsung sehari. Inget, sehari doank! selepasnya, kamu akan sibuk ditanyain tentang "kapan?" Kapan kerja, kapan nikah, kapan punya anak, kapan punya cucu..hehe, yang nanya pun beragam, dari keponakan sampe buyut kita, tetangga, orang baru kenal juga kadang. Dan pertanyaan tentang "kapan" ini biasanya buat kita pengen balik lagi jadi mahasiswa atau melepaskan segala mimpi kemudian bekerja asal kerja aja. Yang kalo ditanya tetangga ada jawabannya. Ya, gitu..

Nah terus, buat kamu termasuk saya yang udah terlanjur wisuda ini mesti gimana donk..? First, ayo deh, cepet-cepet ubah mindset kamu tentang kehidupan pasca kampus. Kerja itu mudah, siapa aja bisa kok, manajer, asisten, supervisi, pegawai, nyuci piring, nyapu, ngepel,,kerja juga kan...(nyengir)
Kerjaan- kerjaan di atas semuanya gak ada yang mandiri, semuanya serba diperintah, serba didikte, serba ditentuin. Boleh banget buatmu yang tipe orangnya bisa di bawah tekanan (tekanan gaji yang ditentuin, tekanan pangkat yang gak kunjung naik. Peace..he). Lain soal jika kamu orangnya suka dengan tantangan, yang punya ide brilian, yang jika idenya gak dikeluarin bisa galau seharian, yang berpikir out of the box, yang unik dan beda, yang berani, yang siap rugi, yang sia untung juga. So, udah, yakinkan aja dalam hatimu, jadi Wirausaha! Buka lapangan kerja! 
kata yang baca: "enak banget ya ngucapinnya, ngejalaninannya susah banget kaliii..."
Iya, memang susah..jika kamu gak pernah mulai. Kuncinya adalah memulai. Sesuatu yang gak pernah kamu mulai mana bisa ada hasilnya.. Mulai lah dari awal. Jika mimpimu ibarat gunung. Maka lihatlah gunung itu dari tanah setapak yang ada dihadapanmu, telusuri ia selangkah demi selangkah, bisa jadi selama perjalanan menuju gunung kamu diterpa badai, binatang buas atau sesekali harus merangkak serta bergelut dengan pasir dan abu vulkanik yang panas. Berhentilah jika kamu telah kehabisan tenaga, berhenti bukan untuk bermalas-malasan dan berleha-leha, melainkan untuk merenung, mengevaluasi dan menyiapkan tenaga yang lebih power dari sebelumnya. 

Tentang sakit, jangan risau dan bersyukurlah. Bisa jadi ini adalah cara Allah untuk mempersiapkan takdir yang lebih baik. Sakit yang disyukuri akan membuat mentalmu lebih sehat dan dosa - dosamu diampuni layaknya daun-daun kering yang berguguran dari pohonnya. Nikmatilah ia sebagai proses kesuksesanmu yang dapat kau jadikan cerita dan pengalaman untuk memotivasi orang lain.

Kemudian, jika mimpi untuk berwirausaha itu telah kau miliki, yakinkan kompetensi yang kau punya. Jika merasa belum cukup, maka belajarlah! Ambil setiap masukan, reverensi dan hal apapun yang dapat mendorongmu ke dalam kebaikan.

Jika sudah, maka kamu telah memiliki kunci pertama yang harus dimiliki. Kompetensi! Orang-orang yang memiliki ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.. Maka, belajarlah, belajar tentang apa saja. Msih ada waktu, tidak ada kata terlambat untuk sebuah Kesuksesan!

Dan yang terakhir adalah Networking alias jaringan. Sudah dijelaskan diawal bahwa bersilaturahim adalah jalan jatuhnya rezekimu yang masih menggantung di atas langit. Bertemanlah dengan siapa saja. Jangan negatif thinking, tapi jangan juga terlalu positif, maksudnya lebih berhati-hati, karena tidak semua orang itu baik. Ibarat kalo kata trainer Irpan Sanjaya tuh, jadi orang kalo dah di dunia kerja, jangan bermuka 10 benar. Tahu, 10 benar? ya itu, polos banget, lugu banget, sampe mudah banget ditipu orang lain. Jangan sampe ya. Kerja memang harus profesional, bedakan antara kerja, hadiah dan sedekah. okee

Ingat lho, yang saya pahami dalam sebuah training alias Dauroh (ehm) Pasca kampus, bahwa Dunia itu Kejam! ya, dunia nyata memang kejam! Dunia itu memang keras! maka Gebuklah! Kadang kita harus kejam pada diri sendiri. Jarang sekali segala yang dimulai dengan perasaan gembira kecuali dengan sebuah paksaan. Memaksa diri untuk rajin, kalo penulis memaksa diri untuk menulis. Begitulah semangat, penuh denga paksaan.. Paksaan yang positif tentunya..:)

at Last, udah diusir secara halus nih sama penjaga PSIK.hehe..
Melangkahlah setahap demi setahap, melangkah dari bawah. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kenudian. Rajutlah mimpimu dari titik awal. Kerjakan. Mulailah! dari yang ada! bukan dari yang kecil, tapi dari yang ada! Apapun yang kita miliki saat ini tak kan ada yang sia-sia kecuali kita sendiri yang menyia-nyiakannya. Siip.....

eN buat yang masih mahasiswa atau dah S. TW ( alias sarjana telat wisuda,hee.. salut buat kamu!serius!). Setidaknya kamu masih memiliki waktu untuk mengubah hidup dan masa depanmu dengan rencana yang matang dan lebih baik. Lulus cepat atau lambat bukanlah sebuah masalah. Lulus cepat tapi tak memiliki rencana yang matang juga bukan suatu hal yang baik. Lulus lambat tapi terlena juga bukan hal yang patut dilakukan juga. Intinya, mesti punya rencana alias planning kedepan. Ini serius lho! Jangan remehkan rencana hidupmu. Kalau bisa, milikilah usaha sejak kamu masih mahasiswa, maka ini akan menjadi pegangan jika kamu sudah lulus nanti.

 Nah yang udah terlanjur IPeKa nya 2,dua koma, dst.. gapapa, kamu jangan kecil hati, berbahagialah! Kalo kata pengusaha sukses nih (bukan saya, dia yang bilang), orang yang IpeKanya 3, memang, cari kerjanya mudah dan bisa langsung keterima jadi pegawai apalagi negeri. Tapi karena kemudahan ini ia kemudian akan menjadi orang standar yang puas dengan status kepegawaian dan dengan gajinya yang itu-itu saja. Kecuali kalo niatnya tulus buat mengabdi, tapi kebanyakan saat ini sih..ya gitu de.. banyak korupsi bermunculan dari sektor ini..mudah-mudahan kamu gak ya:)

nah kalo IpeKa kamu 2..maka, kamu memang sulit pada awalnya. Tapi justru karena kesulitan kamu ini kamu menjadi makin semangat buat wirausaha, liat deh 5 hingga 10 tahun ke depan,, kebijakan publik pun bisa kamu pengaruhi karena kamu berhasil menguasai pangsa pasar..wow! lebih menantang bukan!

Nah kalo IPeKa 4... Hebat memang! saluuut! bisa cumlaude! tapi...mana ada perusahaan yang mau gaji kecil pegawainya yang IPeKanya GeDe bangeet.. kecuali kalo dia serius mau jadi ilmuwan yang bakal mengharumkan nama bangsa dan agama..Siip dah!..

en..kalo IpeKa nya nasakom alias 1 koma....wajib berusaha dan berdoa lebiiiih keras ya! hehe....

Intinya, semuanya baik kalo pas pada jalurnya. Punya semangat dan niat yang tulus buat kemajuan Bangsa dan Agama. Apalagi kalo untuk menegakkan kalimah Allah dimuka bumi. Wangi surga dah kecium dari Bumi-Nya. Subhanallah... :D

Dan Ingatlah!

Nahnu Du'at qobla kuli sa'i. Saya adalah Da'i sebelum menjadi apapun..

Semoga sukses selalu menyertaimu, menyertaiku, dan kita semua!

Aamiin Ya Rabbal'alamiin..


kenapa gambarnya ini? dia malu tuh gak punya rencana hidup pasca kampus.hehe






Ruang PSIK, 8 Oktober 2012

14.32PM



Jumat, 07 September 2012

Mau sukses? Temukan kata kuncimu!


Sudah lama s.e.k.a.l.i. gak ngeblooooggg..... Baru aja kemaren disentil sama tweetnya mbah Jamil Azzaini tentang orang yang punya blog tapi sok sibuk (yang gak jelas banget) en ngelupain blognya.. Jleb banget dah rasanya. Soalnya saya banget tuh.. :p

Oke, kalem... say, "Alhamdulillah"... say hay..
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. :)

By the way, sebenernya buku ini udah lama banget saya baca. Tapi baru kelarnya barusan aja. Pantes aja gak ketemu-ketemu kunci gimana buat sukses. Ternyata emang buku itu mesti dibaca dulu sampe habis ya. hehehe. Kelewatan -__-..

Bab ini ada di dalam bukunya Ippho Santosa "7 Keajaiban Rezeki", dan dari Bab ini juga ternyata saya menemukan kata kunci kesuksesan yang selama ini saya cari. cieh..
Inilah Bab tentang Pembeda Abadi, sebelum tau tentang apa itu pembeda abadi, saya mau nanya dulu nih sama reader-reader luar biasa yang lagi baca ini. Kalo kita ingin menjadi seorang pemenang, apa biasanya hal yang harus kita lakukan? tentunya dengan cara meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kelemahan bukan?
Dan menurut kita serta pada umumnya, untuk sukses itu dengan cara menitikberatkan pada keduanya, iya kan?
Emang bener banget, tapi tunggu dulu, kita sebagai manusia yang sempurna tentunya juga memiliki kemampuan yang terbatas. Kita pun dituntut untuk memilih, menjalankan yang satu dan merelakan yang lain. Maka harus dipilih salah satu dari keduanya agar kesuksesan kita sampai lebih cepat. Kira-kira yang mana, meningkatkan kelebihan atau memperbaiki kelemahan?
Saya lebih setuju pada pilihan pertama, yaitu meningkatkan kelebihan. Jadi diibaratkan begini,

* Katakanlah, kamu jagonya dibidang design grafis dan ternyata lemahnya pada bidang masak-memasak.
* Dengan mengasah kelebihanmu dibidang design grafis, maka efektivitas design grafis anda dapat terdongkrak, dari yang sebelumnya bernilai 7 menjadi 9.
* Dengan mengasah kelemahanmu dibidang masak-memasak, maka efektivitas memasak anda dapat terdongkrak, dari yang sebelumnya bernilai 5 menjadi 7.
* Oke, berdasarkan ilustrasi di atas, terus bagaimana pendapatmu?
Mau dengar komentar saya, atau sebenernya yang saya dapetin dari bukunya Ippho Santosa??hehe..! baiklah, baiklah..

Pilihan pertama ya jelas-jelas menguntungkan, dengan meningkatkan potensi dan kelebihan yang kita miliki, maka kita yang awalnya bernilai rata-rata, menjadi di atas rata-rata, bahkan dengan potensi kita tersebut yang bernilai 9, kita dapat menjadi jawara - tak terkalahkan oleh siapapun!
Lantas, bagaimana dengan pilihan kedua? dengan kemampuan di bawah rata-rata, maka dengan mendongkrak nilai 5 menjadi 7, kita pun menjadi orang rata-rata. Tentunya anda menjadi orang yang biasa-biasa saja dibidang memasak. Dan pastinya, akan ada banyak orang lainnya yang dapat mengalahkan anda!

Kalaupun anda memang "gak pandai" dalam hal memasak. Hal yang harus anda lakukan adalah menemukan mitra yang pandai memasak alias dapat menutupi kekurangan anda tersebut. Salah satu caranya, bagi kaum pria ya cari istri! hehe..

Menurut Ippho sih, memang telah banyak buktinya bahwa orang yang sukses dan telah melejitkan karirnya adalah orang yang berani meningkatakn potensi kelebihannya. Belum ada cerita yang berhasil karena memperbaiki kelemahan. Memperbaiki ya, memperbaiki, bukan kelemahan karena ia cacat fisik, justru kalo cacat fisik, kelemahannya itulah kelebihannya. 

Selain menghasilkan, potensi anda ini akan menjadi kebahagiaan bagi anda. Ini menjadi semacam panggilan jiwa - bukan panggilan kerja!

Karena menghasilkan dan menyenangkan, anda pun terus mendalami potensi anda tersebut, hingga akhirnya ini menjadi keunggulan khusus yang anda miliki. Inilah yang namanya Pembeda Abadi

Pembeda anda dengan yang lain. Hal yang merupakan keunggulan, kata kunci pada diri anda yang menjadikan anda berbeda. Banyak yang sudah memiliki hak paten karena bertahan pada persepsi masyarakat pada gelar yang melekat padanya, bukan gelar akademik, namun gelar yang didapatkan seseorang karena kemampuan yang dimilikinya. Misalnya anda terus-terusan membahas tentang entrepreneur, maka anda akan dijuluki sebagai, misal, Alim sang entrepreneur. 
Seperti Ippho Santosa --> pakar otak kanan
Andrie Wongso --> entrepreneur
Arifin Ilham --> Dzikir
Ust. Yusuf Mansur ---> Sedekah 
dan masih banyak yang lainnya.

Banyak sudah contoh orang-orang yang tahu akan potensi dirinya kemudain meningkatkannya. Menjadikannya persepsi yang berkembang luas di masyarakat kemudian melekat pada dirinya. Itulah yang akan menjadi pembeda antara anda dengan yang lain, yang mengantarkan anda pada kesuksesan yang luar biasa dan menjadi paten akan sebuah keberadaan tentang aktualisasi diri anda.

Lalu bagaimana dengan saya? Saya sendiri telah menemukan kata kunci diri saya, selain kunci internal sebagai (perempuan alias Ibu rumah tangga), maka kata kunci kedua pada saya adalah Nursepreneur. Inilah dua kata kunci yang akan berusaha saya tingkatkan, pertahankan dan saya lejitkan. Biar kelak saya lebih dikenal dengan nama Multi nursepreneur atau Ummu Multi nursepreneur.hehe. Walau saya tak ingin melupakan keteguhan saya sebagai seorang wanita dan Ibu nantinya. Karena peranan inilah yang paling mulia bagi seorang wanita. But, you Have a dream! So, realize your dream as way as to give thanks to Your Rabbi for your beautifull life^^..

So, bagaimana dengan anda? Mari, temukan kata kuncimu! Kata kunci yang menunjukkan bahwa engkau berbeda!








Jum'atBarokah, Sept 7th 2012
in Lovelly BEM UNSRI Secretariat
16.00 WIB

Minggu, 12 Agustus 2012

Catatan Sore: Sebuah Bahasan Dari Pengemis hingga Hafidz

Fiuh... lagi "cuti" terus mampir ke masjid itu sesuatu ya. Cemburu banget liat orang-orang pada sholat :'(..
But, it's Ok. Ini alami Guys, mesti disyukuri, karena menandakan bahwa kamu tuh "subur", Alhamdulillah..

Oke deh, sebenarnya yang lebih utama mau gue (lagi kepengen nge-gue-elo nih.he) ceritain sore ini tentang lingkungan sekitar yang gue singgahin ini. Yaitu di salah satu masjid terbesar di Palembang city (tahu kan..)

Sebenernya gue kesini bukan buat nungguin temen, apalagi sholat (kan lagi cuti), cuma jeda waktu dari selesai hunting buku di gramed sampe buat nungguin acara buka puasa di Rumah Makan Semarang bareng angkatan tuh kelamaan. Gak asyik kalo gue mesti nunggu di Rumah Makan dari ashar, nafsu banget pengen buka.hehe. Nah, mau pulang ya kejauhan, sekalian buka di kosan aja (puasa juga gak nih.ckck), mikir keras deh, tapi kalo yang namanya bulan puasa tu hati rasanya condong ke mesjid terus (terus bulan laen gak gitu?..) .... Ya udah, masjid Agung jadi tempat ngadem yang paling adem buat ngademin hati.hee..

Sempet pas masuk wilayah masjid, bingung sendiri, orang pada sholat..nah, terus, gue, ngapain? Ennn ketemulah tempat yang, yah, agak lumayanlah buat berteduh, deket parkiran di bawah pohon rindang.
Pas udah sekitar dua menitan duduk, datenglah kumpulan ibu - ibu yang style-nya memang sering banget di masjid-masjid besar pas bulan Ramadhan, profesinya mencari uang dengan modal nengadahin tangan atau celengan, cangkir air mineral, dll. Dah tahu kan apa...

Terus duduk - duduk dah tuh di samping gue.
Ya duduknya deket banget sih, mau gak mau, mau gak mau nih ya, gue pasti kedengeran sama apa yang mereka omongin (pasti gak mau dituduh nguping kan, hayo ngaku...hehe)

Dari yang gue amati dan gue analisis secara cermat (cie, pake analisis segala, gaya lu) ternyata mereka tuh aktivitasnya kayak orang-orang kebanyakan lho, bro.. jangan ngira mereka - mereka yang pada "ngumpulin" uang dijalanan gak bisa apa-apa, alias makan dari yang kita kasih doank. Ibu-ibu ini juga masak, ngurus rumah, belanja, nyiapin buat lebaran, bahkan ada yang pengajian juga di lingkungan komplek rumahnya (cuma ya sering bolosnya, katanya sih gak tahan dzikirnya kelamaan..waduh.ckck.hehe)

Tertarik dengan ibu - ibu ini, saya pun ngebet banget pengen kenalan.hehe, dari obrolan tentang ta'jil sampe ke anaknya ada berapa. Tapi yah, secara orang asing jadi agak rada tertutup gitu de. Cuma yang gue tangkep, ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak, bujang-bujang, gadis-gadis ini profesinya sama! (ya iya lah..) bukan, maksudnya, dari daerah yang sama, ada dari kertapati, juga ada yang dari jaka baring, bahkan ada yang sekeluarga ke masjid ini untuk menjalankan profesinya sehari-hari.

Nah yang menariknya nih, ibu-ibu ini kalo mandi alias bersih pasti keren deh, rambutnya ada yang direbonding bahkan juga ada yang make-up an.hehe.
Terus yang buat gue terpana, sambil bergurau salah satu ibu-ibu ini terus berdiri dan berjalan seperti orang yang cacat kaki, Ya Allah mirip bener, gue kira beneran, ternyata cuma acting yang membuat ibu-ibu yang lain ketawa-ketawa aja. Pikiran abu nawas gue, pengen belajar ng-acting jugaa..asyik kali ya,hee

Disana ibu-ibu itu ngobrol-ngobrol lagi, terus ibu yang tadi balik lagi sambil bawa tasnya yang udah kumuh alias kusam. En guys, yang buat gue terpana kembali, dibuka lah tasnya, dikeluarin dompetnya. Ternyata isinya lembaran-lembaran biru, hijau, dan banyak lembaran lainnya, terus gue ngelirik dompet gue, hiks, cuma lembaran ongkos doank.he

Namun yang jadi perhatian, bukan tentang gue yang pengen dompet gue penuh juga, bukan.. namun yuk sama-sama kita lihat substansi ceritanya, kalem..

Coba deh kita lihat, perhatikan, disekitarmu disekelilingmu, tentang satu budaya yang sulit banget hilang dan sulit banget lepas. Yaitu meminta-minta. Ya guys, mengemis. Ini bahkan bagi sebagian orang udah jadi profesi mereka. Oke gue ngerti dan paham, bagi temen-temen yang pendidikannya tinggi dan dari keluarga menengah ke atas atau yang punya latar belakang keluarga dengan didikan akhlak dan agama yang baik, pasti malu banget atau gak deh buat ngelakuin hal kayak gini alias ngemis-ngemis dijalanan. 

Namun, apa yang terjadi jika orang-orang tadi dikumpulkan dalam suatu komunitas dan mempunyai tujuan yang sama, orientasi yang sama yaitu uang. Maka mengemis bukanlah lagi dijadikan sebagai keterpaksaan saat sulit, namun sudah dijadikan profesi tetap bahkan pesta dermawan akhir tahun. Oke jika ada satu dua orang yang mengemis karena memang sudah sangat terpaksa. Namun ini sudah dilakukan oleh sebuah kampung atau kumpulan yang saling menguatkan dan memotivasi untuk mengemis, sehingga tak ada lagi rasa malu untuk menjadikan diri peminta-minta. Orang tuanya, lingkungannya, sudah mengajarkannnya dari kecil untuk bermental pengemis. Jadi wajar saja jika ia tak tahu, tak paham, bahkan telah keras hati untuk sekedar dinasehati dan diberikan siraman ruhani.

Gue gak nyuruh lu buat gak sedekah, nggak,,bukan,, beda lho, antara yang memberi dan diberi.. simak surah Al-baqarah ayat 177 berikut:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Ibnu Utsaimin mengatakan, Ayat ini menunjukkan bahwa memberi uang kepada pengemis adalah amal kebajikan meski sebenaranya pengemis tersebut tidak layak mendapatkan bantuan dikarenakan dia adalah orang kaya.

Nah, gimana buat pengemis itu sendiri..kan ada dalil yang jelas tuh tentang gak bolehnya meminta-minta.. 


Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, 
"Barang siapa meminta minta harta kepada orang lain dalam rangka memperkaya diri sendiri maka sebenarnya dia meminta untuk diberi bara api neraka maka hendanya dia memperbanyak bara api yang dia kumpulkan atau mempersedikit" (HR Muslim).
Dari Abdullah bin Umar, Nabi bersabda, 
"Tidaklah henti-henti seorang itu meminta minta harta orang lain akibatnya dia akan datang pada hari kiamat nanti sedangkan di wajahnya sama sekali tidak terdapat sekerat daging pun." (HR. Bukhari dan Muslim)
(Tafsir al Qur'an al Karim Surat al Baqarah jilid:2 Hal. 289-290, terbitan Dar Ibnul Jauzi cet. pertama 1423 H). _
(kucintaquran.blogspot.com)_


Tuh, gimana..serem kan.. Saudara-saudara kita banyak yang gak tahu sama hadist-hadist ini nih...
Gini aja deh, alangkah bagusnya jika kita ingin menasehati, dengan cara yang baik dan sopan, memberi sedekah terus menebar kebaikan lewat nasihat. Kan dapet dua amal tu.. :)

Lantas apa yang terjadi dengan bangsa kita saat ini? Kita sudah mulai kehilangan karakter itu kawan, kita telah kehilangan karakter Bangsa penakhluk yang kuat dan gagah berani seperti zaman kerajaan Sriwijaya. Bangsa yang biarpun banyak rakyatnya yang miskin, namun ia kaya secara akhlak dan moral. Ia kaya prestasi. Ia pun kaya harga diri.

Gue pernah ke gramed terus liat buku atau novel yang nyeritain tentang zaman kerajaan Sriwijaya. MasyaAllah guys, elo yang pecinta sejarah, atau memang mau kenal sama suku loe, nenek moyang loe, baca tuh buku sampe habis, terus loe bisa tahu lemahnya mental-mental kita yang sekarang, hilangnya kata Darussalam dari hati kita, jiwa kita, dari perilaku kita. Sekedar saran nih ya, kalo mau Palembang kembali jadi kota Darussalam, pilihlah pimpinanmu yang tahu persis sejarah di kotanya, atau tentang sejarah bangkitnya ke-Islaman di daerahnya. Insyaallah, bakal maju dah tuh kota.. Apalagi yang mencintai Al qur'an, terus orientasinya Allah sama akherat. Yakin dah, gol tuh jadi kota peradaban, percontohan..

Nah, kembali ke kasus tadi ya, gue jadi pengen ngulangin kultweet gue tentang filosofi jagung, tanah, air dan pupuk kandang kemaren. Filosofi ini gue dapet dari Babeh Jamil Azzaini yang diundang pas acaranya Chating dengan YM alias acara yang bareng ust. Yusuf Mansur. 

Nah, ceritanya tuh tentang Babe Jamil yang gak tegaan orangnya. Suatu hari ikut Bapaknye ke kebun buat nanem jagung. Pas mau nanem, eh Babe Jamil teriak-teriak,
"Jangan Bapak..Jangan ditimbun jagungnya pake tanah. Kasian Bapak, kasian jagungnya ditimpa tanah!"
terus, ape nih kata Bapaknye,
"mil, denger mil, jagung ini memang kudu ditimpa tanah mil! Biar mil! Biar jagung ni ditimpa tanah. Tanah ini yang akan buat ni jagung tumbuh mil. Sama kayak Jamil! Biar Jamil hidup di dalam hutan, ditimpa kemalangan, kemiskinan, tapi ini lah yang akan membuat Jamil tumbuh. Hebat Jamil jika dapat melewati tanah yang keras dan kasar ini!"
Babe tertegun, nyadar kalo Bapaknya bener..
"Nah, terus ini mil, ni jagung, mesti mil sirem biar gak layu, biar cepet tumbuhnya. Nah sama lagi nih kayak Jamil, tapi kalo jagung disirem pake air, nah kalo Jamil pake Ilmu.."
" Mil, denger ye kate Bapak. Biar kita miskin harta, tapi jangan pernah miskin prestasi!"
Babeh Jamil ngangguk-ngangguk.
"Selain air mil, Jagung juga butuh nutrisi biar sehat, kuat, dan ngasilin buah unggul yang enak dan super. Berhubung Bapakmu ini orang gak punya, maka Bapak pake pupuk kandang.."
"tapi mil, Jamil kudu sabar. pupuk kandang tuh bau, kotor, hina! dan Jamil gak bakalan betah lama-lama sama ni pupuk. Sama kayak hidupmu mil! hinaan, kesakitan, cacian, makian yang kau dapatkan saat ini adalah pupuk kandangmu! pupuk kandangmu yang akan membuatmu menjadi orang besar dan hebat jika kau dapat menerimanya dengan sabar, ikhlas, namun tetap tak pernah gentar untuk terus tumbuh."
Babeh mungkin dah ngeluarin air mata saking terharunya, gue apalagi..

(ngomong-ngomong, perasaan Babeh Jamil dari Lampung deh, kenapa jadi ngobrol Betawi gini yak. Nah kebawa ust. Yusuf Mansur nih. kacau, kacau.. he.. Biarin deh, yang penting dapet hikmahnye ye..Cakep dah:) )

Begitu lah kawan. Sesungguhnya karakter-karakter seperti ini lah yang kita rindukan. Karakter yang punya harga diri saat membela harkat martabat dan agamanya. Lihatlah Babeh Jamil sekarang, dah jadi orang besar, tariner Hebat! Yang udah memotivasi berjuta orang dengan keluarga yang harmonis dan anak-anak yang juga berbakat..

Sekarang kita yang tahu, kita yang paham . Memang sudah jadi tugas kita semestinya menyampaikan setiap kebaikan dan merubah pola pikir rakyat kita saat ini, jangan bilang mental tempe ya, kenapa mesti tempe yang jadi kambing hitam, tempe kan enak, bagus, kaya manfaat lagi, gak setuju gue, yang bermental tetel aja. Enak di awal, gak enak diujung, karena bawa banyak penyakit (kolestrol)..hehe.

Setuju banget nih sama programnya semacam Indonesia mengajar, atau program-programnya Dompet Dhuafa, atau Yatim Kreatif, ESQ, and masih banyak lagi deh yang lain.. makanya, gue seneng banget sama yang punya semangat lebih, terus mau disalurin ke orang-orang di sekitarnya. Yang bisa memotivasi walau harus dimotivasi, yang memberikan berjuta manfaat bagi orang banyak.. makanya gue suka sama yang namanya motivator alias trainer alias penyemangat alias,,, yaa ketauaan.hehe (out of the record, apaaan rahasia, sedunia bakalan tahu  you know..) maksudnya, gue juga suka buat jadi motivator, paling gak buat anak-anak gue nanti. Cita-cita besar, melahirkan dan mendidik hafidz dan hafidzah. Aamiin Ya Robbul Izzati.. 

Juga kita mesti sadar, terutama yang sudah paham. Dirimu yang kelak akan menjadi orang tua harus mempunyai visi dan missi yang jelas untuk titipan-titipan Allah yang akan kau didik nanti. 
Maka dari itu, saya (ganti saya ya, biar lebih serius), harus punya visi dan konsep yang jelas
~Pertama, Menjadikan putra dan putri seluruhnya hafal Al Qur'an
~Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. 
Setelah shalat Subuh dan mahgrib adalah waktu khusus untuk Al qur'an yang todak boleh dilanggar. Konsisten membacakan Al Qur'an didekat mereka, mengajarkannya dan kalau bisa mendirikan tempat belajar Qur'an dirumah.
~Ketiga, mengomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah
Awalnya mungkin terpaksa, namun akan menjadi kebutuhan jika sudah memahami pentingnya dan banyaknya fadhilah bagi penghafal qur'an. Saat anak mampu menghafal dengan baik, maka berikan reward atas pencapaian sebagai wujud perhatian dan kasih sayang.

Tak apa jika kau memandang jika rencana-rencana ini terlalu muluk. Namun semoga dapat menjadi inspirasi  bagimu dan melahirkan ide-ide yang luar biasa dalam meraih keridhoan Allah SWT..

Baiklah sudah malam, saya mohon pamit. Semoga Allah senantiasa meRahmati hamba-Nya yang mengharapkan keridhoan-Nya. Saya sangat yakin, suatu saat nanti bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar. Bangsa bermental baja yang tak gentar membela agama. Aamiin..


Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduanla illaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik..




Yaumul Ahad, 24 Ramadhan 1433H
10.32 WIB