Blog
ini ditujukan hanyalah untuk berbagi..
berbagi hal yang belum sempat terucapkan lewat kata-kata dan tertumpahkan dengan tulisan,,

Memulai jejak dalam sebuah tulisan.
Menorehkan tinta sejarah hingga ia dikenal nyata.

Sejarah kehidupan dalam sebuah bingkai.
Melompati setiap ekstase dengan semangat menyala.

Walau terkadang lampu - lampu jalanan turut menghiasi medan menuju setiap tahap kemenangan, pengharapan dan sebuah pembelajaran tentang Kebijaksanaan.

Semua tertuang untuk sebuah cerita.
Cerita hidup yang aku, kau dan kita adalah pelaku setianya.
Hingga kemudian Cahaya gemilang itu mampu kau renggut, kau peluk dengan tanganmu.

Senin, 24 Januari 2011

Mengapa Rasulullah selalu Sehat Selama Hidupnya?? mau tau.....??.nih dia rahasianya!!


Selama ini kita mengenal dua bentuk pengobatan. Pengobatan sebelum terjangkit penyakit / pencegahan ( At thib Al wiqo`i), dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al `ilaji). Nah, dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan. (attadawi bil ghidza`). Ini tentu jauh lebih baik daripada kita harus “berhubungan” dengan obat-obat kimia.


Dalam setiap aktifitas dan pola hidupnya, Rasulullah memang sudah disiapkan untuk menjadi contoh teladan bagi semua manusia., termasuk dalam hal pola makan. Memang sih, hanya urusan makanan. Tetapi kalau dengan pola makan tersebut, Rasulullah kemudian memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan sanggup mengalahkan para pegulat, tampaknya kita harus mikir lagi untuk mengatakan hanya. Ini bukan perkara remeh. Sebab salah satu faktor penting penunjang fisik prima Rasulullah adalah kecerdasan beliau dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsinya.

Hal pertama yang menjadi menu keseharian Rasulullah adalah udara segar di subuh hari. Sudah umum di ketahui bahwa udara pagi kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain. Ini ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktifitasnya selama sehari penuh. Maka tidak usah heran ketika kita tidak bangun di subuh hari, kita menjadi terasa begitu malas untuk beraktifitas. Selanjutnya rasulullah menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya.

Lepas dari subuh, Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al qur`an, kata “syifa” / kesembuhan, yang dihasilkan oleh madu, diungkapkan dengan isim nakiroh, yang berarti umum, menyeluruh. Di tinjau dari ilmu kesehatan, madu befungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. Dalam istilah orang arab, madu dikenal dengan “al hafidz al amin”, karena bisa menyembuhkan luka bakar.

Masuk waktu dluha, Rasulullah selalu makan tujuh butir kurma ajwa`/matang. Sabda beliau, barang siapa yang makan tujuh butir korma, maka akan terlindungi dari racun. Dan ini terbukti ketika seorang wanita yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah dalam sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Bisyir ibnu al Barra`, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut, akhirnya meninggal. Tetapi Rasulullah selamat.

Apa rahasianya? Tujuh butir kurma!

Dalam sebuah penelitian di Mesir, penyakit kanker ternyata tidak menyebar ke daerah-daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi kurma. Belakangan terbukti bahwa kurma memiliki zat-zat yang bisa mematikan sel-sel kanker. Maka tidak perlu heran kalau Allah menyuruh Maryam ra, untuk makan kurma disaat kehamilannya. Sebab memang itu bagus untuk kesehatan janin.

Dahulu, Rasulullah selalu berbuka puasa dengan segelas susu dan korma, kemudian sholat maghrib. Kedua jenis makanan itu kaya dengan glukosa, sehingga langsung menggantikan zat-zat gula yang kering setelah seharian berpuasa. Glukosa itu suadah cukup mengenyangkan, sehingga setelah sholat maghrib, tidak akan berlebihan apabila bermaksud untuk makan lagi.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah selanjutnya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja bukan cuma cuka dan minyak zaitunnya saja, tetapi di konsumsi dengan makanan pokok, seperti roti misalnya. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang dan kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan memperlancar pencernaan. Ia juga berfungsi untuk menncegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.


Ada kisah menarik sehubungan dengan buah tin dan zaitun, yang Allah bersumpah dengan keduanya. Dalam alquran, kata “at tin” hanya ada satu kali, sedangkan kata “az zaytun” di ulang sampai tujuh kali. Seorang ahli kemudian melakukan penelitian, yang kesimpulannya, jika zat-zat yang terkandung dalam tin dan zaitun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1:7, maka akan menghasilkan ”ahsni taqwim”, atau tubuh yang sempurna, sebagaimana tercantum dalam surat at tin. Subhanallah! Syaikh Ahmad Yasin adalah salah seorang yang rutin mengkonsumsi jenis makanan ini, sehingga wajarlah beliau tetap sehat, kuat dan begitu menggentarkan para yahudi, meskipun lumpuh sejak kecil. Kalau saja beliau tidak lumpuh, barangkali sudah habis para yahudi Israel itu.


Di malam hari, menu utama Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, belaiau selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. Anda kenal nama tersebut? Di mesir, kata Dr. Musthofa, keduanya mirip dengan sabbath dan ba`dunis. Masih tidak kenal juga? Dr. Musthofa kemudian menjelaskan, secara umum sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu memperkuat daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Jadi, asalkan namanya sayuran, sepanjang itu halal, Insya Allah bergizi tinggi. Maka, para penggemar kangkung dan bayam tidak usah panik. Para pedagang tauge juga tidak perlu pindah haluan. OK?


Disamping menu wajib di atas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya. Diantaranya tsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Jadi ya kira-kira seperti bubur ayam begitulah. Kemudian beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu manis, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian beliau juga senang makan anggur dan hilbah.


Sekarang masuk pada tata cara mengkonsumsinya. Ini tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Sebab setinggi apapun gizinya, kalau pola konsumsinya tidak teratur, akan buruk juga akibatnya. Yang paling penting adalah menghindari isrof, atau berlebihan. Kata Rasulullah, “cukuplah bagi manusia itu beberapa suap makanan, kalaupun harus makan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya” (al hadis). Ketika seseorang terlalu banyak makanannya, maka lambungnya akan penuh dan pernafasannya tidak bagus, sehingga zat-zat yang terkandung dalam makanan tersebut menjadi tidak berfungsi dengan baik.

Imbasnya, kondisi fisik menjadi tidak prima, dan aktifitaspun tidak akan maksimal. Dr. Musthofa menekankan bahwa assyab`u ,yang berarti kenyang itu bukan al imtila` , atau memenuhi. Tetapi kenyang adalah tercukupinya tubuh oleh zat-zat yang dibutuhkannya, sesuai dengan proporsi dan ukurannya. Jadi ini penting; jangan kekenyangan!


Kemudian Rasulullah juga melarang untuk idkhol at thoam alatthoam, alias makan lagi sesudah kenyang. Suatu hari, di masa setelah wafatnya rasulullah, para sahabat mengunjungi Aisyah ra. Waktu itu daulah islamiyah sudah sedemikian luas dan makmur. Lalu, sambil menunggu Aisyah ra, para sahabat, yang sudah menjadi orang-orang kaya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam-macam. Aisyah ra, yang mendengar hal itu tiba-tiba menangis. “apa yang membuatmu menangis, wahai bunda?” tanya para sahabat. Aisyah ra lalu menjawab, “dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”. Dan penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya berjenis-jenis makanan dalam perut telah melahirkan bermacam-macam penyakit. Maka sebaiknya jangan gampang tergoda untuk makan lagi, kalau sudah yakin bahwa anda sudah kenyang.


Yang selanjutnya , rasulullah tidak makan dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan yang dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam satu waktu dan juga tidak langsung tidur setelah makan malam, karena tidak baik bagi jantung. Beliau juga meminimalisir dalam mengkonsumsi daging, sebab terlalu banyak daging akan berakibat buruk pada persendian dan ginjal. Pesan Umar ra ” Jangan kau jadikan perutmu sebagai kuburan bagi hewan-hewan ternak!”. Ayam, kambing, lembu, kerbau semuanya masuk. Kan kasihan tuh, tetangga nggak kebagian. Hehehe… nggak ding! Maksudnya itu tidak baik bagi kesehatan.


Jadi begitu, saudara-saudara. Ini barangkali baru sedikit. Masih banyak pola hidup sehat ala Rasulullah yang bisa kita pelajari. Kali ini, Dr. Musthofa memang khusus membahas menu makan dan cara mengkonsumsinya. Dari sini kita bisa tahu bahwa ternyata Rasulullah sangat memperhatikan masalah gizi dan menu makanan. Dan di tengah mengaburnya semangat untuk mengikuti sunnah rasul, ini bisa menjadi spirit untuk memulai menghidupkannya kembali. Apalagi menu-menu tersebut terbukti bisa dipertanggungjawabkan secara kesehatan. Nah, masih kurang ilmiah?



(disarikan dari Ceramah Umum “ghidza`unnabi” oleh Prof. Dr. Musthofa Romadlon di Wisma Nusantara, Kairo. Mesir) tulisan ini ditulis oleh Muhammad As’ad Mahmud, Lc.



sumber: http://kiatsehat2010.blogspot.com/2010/08/mengapa-rosulullah-selalu-sehat-selama.html

Kamis, 06 Januari 2011

Biasakanlah hati untuk menata diri pada Cinta yang benar..kawan..

Cinta, tak bisa bosan atau pun mengelak pada hal yang tak dapat dihitung, tak dapat dibagi-bagi. walau pun pada kenyataannya terbagi, tapi mendapat tempat khsus setiap bedengnya.

Begitupun dengan hati, yang memiliki seribu alasan dan memisahkan kompromi dengan realita saat keidealismean cinta menuai di qalbu, lalu perlahan menaburkan sajak-sajak dan bunga-bunga surga milik langit.

yah,jika kau pernah tahu. Merombak hal yang tak sistematis, ia kacau, berantakan. Masih ingat cerita Sang Sanguinis? Ia membangun menara dengan seenaknya, dengan sebebas imajinasinya, tak tahu ukuran tanah,ketepatan bata, sehingga menara itu miring dibuatnya. ya, tapi apa yang terjadi kemudian adalah bahwa menara miring itu kemudian menjadi luar biasa, bahkan dunia pun mengakuinya.

Sama halnya dengan sajak-sajak buta Sakhesphere. Mengagunggkan sesuatu dengan aroma kematian.

Itulah Cinta, mengungkapkan sebuah kepekaan hati pada imajinasi dan melukiskannya pada realita.

Tapi sajak Cinta yang ingin kuhadirkan disini adalah sajak berbeda. Sajak kecintaan Kalau kita sudah terbiasa menata hati untuk cinta yang benar. Cinta yang memang seharusnya dimiliki dengan kesungguhan, Tauhid Illahiah.

Menunggumu sejenak seakan berpisah pada sajak keagungan abadi, menyiksa hati dan diri walau tiada benci,, melainkan kekaguman tingkat tinggi yang menembus dinding-dinding langit hati.

Terkadang rasa cemburu tak pernah dirasa, saat Sang Maha Cinta meletakkan kecemburuan_NYA padamu saat kau mencintai yang lain.

Terkadang renungan membuatmu menangis karena rasa sayang sederhana yang IA berikan padamu.

IA dengan tangan_NYA meletakkan cinta dihati_MU, tapi bukan untuk memuja yang lain,,melainkan IA hanya cukup kau mencintai-NYA saja,, dan meyakini akan segala keputusan_NYA.

walau kemudian IA memberikan hak sepenuhnya pada_MU untuk mengukir segala rencanamu di garis edar imajinasimu.

Dan memang kehidupan itu adalah milik_NYA yang IA hadiahkan padamu.

Karena memang bukan IA tahu, tapi tlah IA rangkai lebih dulu, segala rencana Indah_NYA, telah IA siapkan untukmu, maka saat aku mencoba mengukir Cinta. Kubiarkan ia menghiasi jiwa sebagai bentuk syukur pada_MU, tanpa menggeser kata satu, tanpa merubah kata Tauhid Cinta yang hanya kepada_MU..

Memang menata cinta yang benar butuh perjuangan. Tetapi justru itulah hakekat kehidupan : memperjuangkan cinta untuk selalu proporsional. Yaitu, cinta tertinggi kepada Allah, rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. Lalu cinta-cinta lainnya harus berada di bawah ketiga hal tersebut, sehingga kemauan Allah dan Rasul-Nya kita utamakan lebih dari kemauan apa dan siapa yang kita cintai.

Allah,,, Kau Maha Tahu..

dan aku pun tahu, telah kau berikan aku pengetahuan agar aku tahu bahwa keyakinanku atas janji-janji dan hadiah indah_MU kan selalu menghias jiwa dan hatiku..

Jiwa dan hati orang-orang yang senantiasa menyerahkan Ruhnya padamu..

Biarkan daun itu melepas dirinya dari genggamanmu. peganglah ia bak pasir,, jika terlalu kuat, maka ia akan habis, jika terlalu lemah maka ia akan disapu angin. Peganglah ia bak pasir... Ia kan fitrah saat datang dan perginya pada dirimu..

tapi tak selayak Imanmu yang kokoh bersembunyi dalam tambang yang dalam,,ditempa begitu keras hingga menjadi Intan. Tak roboh, tak pecah dihadang angin, batu, dan lahar. Tetapi justru menjadi sesuatu yang sangat berharga, ia tak diwarisi, berdiri sendiri, dan milik segala hati yang Terhimpun dalam Cahaya Rabbi..

Minggu, 05 Desember 2010

SURAT CINTAKU UNTUKMU YANG KUCINTAI, DEWAN KEHORMATAN, PARA WAKIL RAKYAT


Ketika ditanyakan dengan apa aku menulis ini semua. Maka aku akan menjawab dengan air mata. Tidak hanya air mata yang bermuara pada pemilik tulisan ini, tapi berjuta-juta air mata diluar sana yang menuntut keadilan, menuntut kebenaran, mengambil haknya sebagai rakyat yang menggaji para penikmat kekuasaan.

Entah apa yang ada dipikiranmu saat ini, entah apa lagi yang kau kejar saat ini, mengaku pembela mengaku wakil. Mengaku penyampai aspirasi?? BOHONG!! Sekali lagi saya katakan itu BOHONG!

Kalau engkau mengaku berpihak pada rakyat, kalau engkau mengaku sang wakil rakyat, kalau engkau menghidupi diri dan keluargamu dengan uang rakyat. Lalu kenapa sampai saat ini kau masih sampai hati sakiti rakyat. Tahukah kau yang terjadi dibawah kakimu saat ini? Mungkin kau tak berniat ingin tahu, atau kau tahu tapi menutupi telingamu dengan headseat sutramu?

Yah, malam ini, mungkin kau sedang mendengarkan alunan music country atau dangdut country sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menikmati jamuan Italy dipinggir laut yang diiringi semilir lembut angin malam. Makananmu taraf internasional, yang tanpa kau sadari membuat perutmu semakin besar, semakin tak sehat, dipenuhi lemak dan kolestrol(ah, aku tak bermaksud menyinggung perutmu disini). Bahasamu bahasa sastra poitik tinggi, begitu luar biasa ketika rakyat awam seperti kami mendengarnya. Bagai corpus alineum (benda asing)ditelinga, tak ayal kemampuan Public speakingmu tingkat tinggi, sampai berkedip saja penuh arti. Ya, memang kau sosok luar biasa. Lewat kata-kata kau mampu menyihir segala, memberi harapan-harapan palsu, manis-manis kucing liar.

Aku tak sedang memujimu, aku hanya sedang prihatin dengan keadaanmu saat ini. Perutmu yang semakin membesar, rambutmu yang semakin memutih. Istrimu yang cantik dan anak-anakmu yang kau nafkahi. Tapi pernahkah kau menyadari, bahwa nafkah yang kau berikan kepada mereka adalah hasil sumpah, hasil kutukan rakyat yang muak akan segala janji-janji dan kesombonganmu. Apakah kau sadar, setiap uang yang dikeluarkan untuk membangunmu adalah uang rakyat? Uang sekelompok manusia yang kau asingkan, yang kau sakiti berulang-ulang kali??

Aku ingin sedikit berkisah denganmu, pada malam biasa, aku melewati daerah yang seringkali kulewati ketika hendak pulang kerumah, waktu itu di Jakarta, tempat temanku. Aku senang melihat hingar bingar malam Jakarta. Lampu berwarna-warni menghiasi dinding kota. Arus trafficking yang sangat padat, menandakan aktivitas yang tak berhenti dan terus 24 jam. Seketika menaiki jembatan penyeberangan, banyak sekali gelandangan terlantar, tidur beralaskan Koran. Tak mengapa jika ia pria gagah, sudah garis hidup menuntut ia giat bekerja. Tapi aku sedih dan menangis ketika seorang ibu dengan bayinya yang merah harus merasakan dinginnya malam karena tak berumah. Rumahnya sudah dijadikan gedung-gedung tinggi tanpa solusi. Ia diusir, dalam kerasnya kehidupan dan zaman. Jika masih seperti itu, lima tahun ke depan, anaknya akan menjadi sahabat setia jalanan. Diajarkan cinta ibu pertiwi dengan caranya. Ia tertawa, karena begitulah hidupnya, ia tak pernah tahu bagaimana seharusnya hidup mengajarkannya. Bagaimana seharusnya tempat yang layak untuk dirinya. Argh..

Atau kau tahu yang terjadi dengan teman-temanku, saat ia bersama-sama memperjuangkan wanita-wanita, anak-anak yang akan diperdagangkan keluar negeri. Seperti barang. Aku, mereka, dan semua yang tahu akan hal ini terkejut, karena ada campur tangamu dibalik ini semua.

Sama halnya dengan pendidikan dan kesehatan, atas nama kesejahteraan kau gadaikan rakyat. Hal yang pokok kau komersialisasikan. Berdalih dengan kata-kata dan kuasa, Neoliberal yang kau bawa sudah sangat Nampak di depan mata! Tapi aku sudah pasti mengira. Setiap pertanyaan, pendapat dan opini rakyat justru kau tertawakan. Kau malah berdalih dengan menyalahkan, seolah-olah kaulah yang paling hebat dan berkuasa. Kaulah yang paling pintar, padahal sesunguhnya kau telah dibodoh-bodohi dengan kekuasaan dan uang.

Mungkin kau akan berteriak kesana kemari, atau pura-pura sakit, atau mungkin pura-pura mati suri, saat tuduhan itu terbukti padamu. Apalagi yang akan kau kuras dari rakyat? Uangnya sudah sangat banyak kau ambil dan kau permainkan tanpa rasa tanggung jawab. Atau kau saat ini telah sadar? Sehingga merajuk-rajuk ingin study banding etika ke negeri Roma? Etikamu bukan pada sosok sehebat apapun diluarmu. Tapi pada dirimu sendiri, etikamu adalah hak prerogativemu. Etikamu adalah kewajibanmu pada rakyat. Mungkin hanya kursi yang kau tanam dalam hatimu. Pernahkan kau menangis dan memikirkan betapa beban dan amanahmu sebagai wakil rakyat adalah hal yang luar biasa yang dianugerahkan Tuhan padamu? Pernahkah kau menangis dalam shalatmu saat memikirkan rakyat-rakyatmu? Ah, mungkin dengan Tuhan pun kau mulai angkuh dan sombong, sehingga mudah bagimu untuk membohongi, menipu, mementingkan pribadi dan kekayaanmu. Lupa, lupa pada Penciptamu yang selalu melihatmu, mengawasimu, mengingatkanmu dan menegurmu saat kau lalai, egois, dan nakal? Memberikan nikmatNYA yang begitu berlimpah sehingga banyak yang mencemburuimu. Sungguh sayang, cintaNYA padamu kau hargai dengan cinta dunia. Oh, aku tak ingin berprasangka. Aku hanya ingin dan berdoa agar kau diberikan kelapangan hati, keteguhan jiwa, sikap dermawan, sikap mengayomi, sikap adil, bijaksana, sederhana, cerdas, berpihak pada rakyat. Tahukah, aku tak ingin muluk-muluk,jika pada kenyataannya kau tak mampu, setidaknya kau tidak melupakan rakyat dan Tuhanmu. Walaupun sesungguhnya aku begitu sedih,, karena harapan Umar, Abu Bakar, Ali, Muhammad tak pernah kulihat dalam dirimu. Aku sedih dan kecewa, walaupun aku tahu dan percaya. Allah, Tuhanku, Tuhanmu selalu ada, tak kan pernah tinggal diam, membimbing kau yang akan berevolusi menjadi tangan rakyat sejati? Atau kau hanya akan tinggal nama dalam sumpah dan kutukan, yang kemudian akan digantikan oleh generasi-generasi terbaik.

Wallahu’alam bishowab.

Selasa, 16 November 2010

Memaknai Ied Adha dalam kisah Ibrahim AS dan Ismail AS


Hari pengorbanan itu tiba, hari berbagi, hari penuh cinta..

apa sesungguhnya maksud Allah memerintahkan Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Ismail AS?

Selama ini mungkin kita hanya mengenal hakikat berqurban secara makna umum, secara harfiyah.

Tetapi kemudian, pernahkah kita benar-benar meneladani dan memahami secara mendalam maksud dari perintah Allah ini?

Mari sejenak kita ulas kembali kisah tauladan yang begitu indah ini..

***

Sudah begitu lama Ibrahim menantikan kehadiran seorang anak. tapi tak kunjung hadir jua. Dalam penantiannya, justru Ibrahim semakin dekat dan semakin cinta kepada Allah. Sekian puluh tahun menanti, akhirnya doa mereka terjawab juga. Allah dengan limpahan kasih dan Rahmat_NYA menganugerahkan mereka setitik cahaya mutiara yang nantinya akan selalu bersinar dan akan menjadi penerang qalbu ayah ibunya. Dialah Ismail, seorang bayi tampan nan mungil yang sangat disayangi keluarganya atas rasa syukur yang tak hingga.

Tak sampai minggu dari kelahiran Ismail, Ibrahim pun mendapat perintah dari Allah untuk segera berperang, berjuang di jalan Allah.

Disaat kepergiannya, Ibrahim dengan hati yang sangat berat meninggalkan istri dan anaknya yang baru saja dilahirkan ke dunia, tetapi di lain sisi ia begitu mencintai Allah, Rabbnya. Ibrahim pun terus pergi, menapak meninggalkan rumah.

"Duhai suamiku, duhai suamiku!" Siti Hajar terus menerus memanggil-manggil Ibrahim, tetapi ia tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun.

"Duhai suamiku, kemana engkau hendak pergi?" panggil Siti Hajar berkali-kali, tetapi Ibrahim tetap saja pergi tanpa meninggalkan satu patah kata pun. Hatinya sudah terlalu berat untuk menolehkan muka kepada istrinya.

"Duhai suamiku, jika engkau pergi karena Allah, Maka pergilah! Berjuanglah! Istri dan anakmu disini akan senantiasa mendoakanmu!" bergetar suara Siti Hajar, kemudian Ibrahim pun menoleh dengan suara yang tertahan dan terserak air mata.

"Duhai istriku, Benar.. Aku akan pergi memenuhi panggilan jihadNYA. Baik-baiklah kau dengan anak kita." Ibrahim pun cepat-cepat memalingkan muka dan meneruskan perjalanannya dengan hati hancur, tetapi kecintaan yang begitu besar terhadap Rabbnya.

**

Bertahun-tahun dilalui, Ismail menjadi sosok pemuda cilik yang sehat dan pemberani. Suatu hari, tiba saat kepulangan Ibrahim. Istrinya yang melihat Ibrahim langsung menyambut dan menyalami tangannya dengan begitu hormat.

"Suamiku, kau sudah pulang kembali. Aku sangat bahagia"

"Begitu juga dengan aku duhai istriku.. istriku, bagaimana keadaan anak kita? dimana ia?"

"Segera kau temui ia. Ismail sedang bermain di halaman depan" tunjuk Siti Hajar kepada seorang anak yang tampan di halaman depan rumahnya.

tak sabar Ibrahim menanti-nanti saat-saat pertemuan itu. Ia pun segera berlali menemui anaknya.

"Anakku Ismail. Ini ayah pulang nak.. ayah pulang.." Ibrahim lalu memeluk anaknya dengan terisak.

"Ayah. Anda benar-benar ayahku?" tanya Ismail

"iya anakku,, ini ayahmu nak. Ayah sudah pulang nak.. Ayah sangat merindukanmu anakku.." Ibrahim memandangi wajahnya yang lugu. Ismail pun tersenyum dalam haru

"ayah. Engkau telah pulang ayah. Aku juga sangat merindukamu ayah.." Isak Ismail dan memluk Ibrahim semakin erat dengan linangan airmata.

**

Baru sehari dilaluinya, Ibrahim kemudian bermimpi. Ia berimpi bahwa Allah memerintahkan padanya untuk menyembelih anaknya, Ismail.

Ibrahim pun terbangun dan menangis. Ia tak bisa membayangkan kalau in benar-benar perintah Allah. Ia ragu apakah ini adalah perintah Allah ataukah syaitan yang masuk dalam mimpinya.

"Ya Allah..jika ini benar dan memang perintahmu. maka ulangi lagi mimpi itu dalam tidurku.." pinta Ibrahim dalam setiap shalatnya.

tetapi kemudian Ibrahim bermimpi hal yang sama, ia pun berdoa kembali

"Ya Allah,, jika sekali ini kau hadirkan mimpi yang sama kembali pada tidurku. Maka aku akan benar-benar yakin bahwa ini adalah perintah dariMU.."

untuk ketiga kalinya, ternyata Ibrahim tetap bermimpi hal yang sama. Hatinya menangis, ia pun bingung, memohon kepada Allah agar diberi kekuatan menyampaikan hal ini pada anaknya, walau dengan hati yang sangat pilu. kemudian datanglah waktu saat Ibrahim berdua saja dengan Ismail.

"Anakku, ayah telah mendapatkan mimpi, ayah telah meminta petunjuk padaNYA berkali-kali, dan dihadirkan mimpi yang sama. Ayah tahu ini adalah perintah Allah dan ayah ingin meminta pendapat darimu" dengan lembut Ibrahim berkata pada Ismail.

"Apakah hal itu ayah. katakanlah"

"anakku... ayah mendapat perintah dari Allah,, untuk menyembelihmu anakku. bagaimana pendapatmu?" Ibrahim dengan suara tertahan dan hendak mencucurkan air mata tak tertahan saat melihat wajah anaknya.

"ayah...jika engkau yakin itu memang perintah dari Allah, maka laksanakan ayah. laksanakanlah..!"dengan mata berkaca-kaca Ismail meyakinkan ayahnya

"tapi ada satu syarat ayah.."

"apa itu anakku.."

"saat ayah hendak menyembelihku nanti, maka lepaskanlah bajuku.. aku tidak sanggup membayangkan jika ibu melihat lumuran darah dibajuku nanti.."Ibrahim yang terkejut menyaksikan jawaban anaknya, langsung memeluk anaknya erat.

**

Ibrahim dan Ismail berjalan berdua, sengaja mereka memilih tempat yang sepi dan diatas bukit. Agar hanya Allah yang menyaksikannya. Ibrahim membawa pedang yang sangat tajam, agar anaknya tidak merasakan sakit yang terlalu lama saat hidupnya. sesampai di puncak bukit, Ibrahim pun membaringkan Ismail di dekat pangkuannya. Dilepaskannya baju anaknya perlahan.

" Ya Allah... Saksikan Ya Allah.. saksikan.. Kami penuhi perintahmu Ya Allah. Aku penuhi perintahmu karena aku lebih cinta padaMU Ya Allah.." Ibrahim pun menangis, pedang diangkatnya dan hendak mengenai leher anaknya yang halus. Tiba-tiba langit bergemuruh dan terdengar suara

"Wahai Ibrahim!! Aku telah menyaksikanmu.. Aku telah memberikan ujian padamu berupa anak yang kelak akan menggantikanmu. Aku ingin melihat apakah cintamu kepada yang lain melebihi cintamu kepadaKU.."

seketika Ibrahim pun tersungkur dan bersujud. Ia menangis sejadi-jadinya.

"Ya Allah,, telah engkau saksikan Ya Allah.. bahwa aku sangat mencintaimu Ya Allah..Aku sangat mencintaiMU.. maafkan aku Ya Allah, maafkan aku.."Ibrahim terisak dalam sujudnya.

Ismail pun kemudian digantikan Allah dengan hewan sesembelihan. Yang kemudian menjadi hewan qurban atas rasa syukur pada Rabbnya...

- - - - - - - - - - -

Saudara-saudara seiman yang kucintai karena Allah... telah lama kita dapati makna sesungguhnya dari berkurban. Makna sesungguhnya saat cinta dunia tergadaikan dengan cinta yang hanya kepadaNYA..

Kita tahu dan kita paham, selama ini yang dilakukan hanyalah sebatas berkurban, menyembelih hewan, kemudian membagi-bagikannya dengan orang-orang yang memang layak mendapatkannya.

Terkadang saat hari suci itu dirayakan, maka akan banyak dan bertaburan peluang kita untuk bersedekah, berbagi, pada sanak saudara kita yang sedang kesusahan diluar sana..

Tapi sadarkah kita makna sesungguhnya dari berqurban ini?? Mungkin sedekah kita sudah baik, amalan kita sudah banyak. Tapi terkadang kita lupa, lupa pada CINTA AGUNG yang hanya untuknya.

Banyak cinta-cinta di dunia yang justru melenakan dan mengajak kita untuk jauh kepadaNYA. Cinta dunia yang membuat Allah begitu dan terlalu sering untuk cemburu..

Betapa sering dan tanpa disadari kita telah menyakiti Yang Paling berhak atas kita, bahkan sangat sering membuatnya cemburu.

Padahal begitu banyak nikmat yang IA hadirkan, RahmatNYA tak pernah putus dan selalu mengalir pada kita. Jika saat ini mata yang indah itu IA ambil dari dirimu, apa yang hendak kau lakukan? Jika hidung yang bagus itu ia ambil sehingga tak dapat kau rasakan segarnya udara pagi, apa yang hendak kita lakukan. Bukanlah hanya sebtas pengandaian, jika ini benar-benar terjadi pada dirimu. Akankah kita akan terus merasa hebat, merasa gagah, merasa pintar, merasa baik tanpa Rahmat dan Bantuan dariNYA??

Kita terlalu disibukkan dunia, yang padahal Allah lah yang menganugerahkan semua itu, memberikan semua itu pada hamba yang sangat IA cintai, walaupun hambaNYA sering menyampakkan IA..

prnahkah kita memahami betapa Allah cinta dan sayang pada hambaNYA...

Mudah-mudahan iya..

Saksikan, renungkanlah duhai sahabatku, jika Allah suatu ketika menyampaikan sesuatu padamu... sesuatu yang mungkin setiap hari IA sampaikan tanpa kita sadari..

...

"Wahai hambaKU, setiap subuh bahkan sepertiga malam AKU menungguimu. memperhatikan dirimu berangkat dari tempat tidurmu. AKU sangat berharap kau bangun kemudian menyapaKU, memohon kepadaKU dengan segenap cintamu,, tapi lagi-lagi tak pernah KU dapatkan itu. Kau lebih memilih menarik selimut tebalmu,,yang kau tahu? adalah salah satu nikmat dariKU.

Wahai hambaku,, Lihatlah dunia lain diluar dirimu. Bencana ku tampakkan padamu, agar kau tahu, kau sadar, bahwa aku masih sangat menyayangimu, aku masih ingin kau bertaubat dan menebar kebaikan pada sesamamu, pada alam dan lingkunganmu. walau AKU harus terus bersabar akan cinta yang tak pernah kau letakkan di hatimu.

Aku tahu, ada sedikit cinta itu, tapi tak sebesar cintamu pada Dunia, cintamu pada uang, cintamu pada kekasihmu, cintamu pada istrimu, cintamu pada anakmu, cintamu pada orangtuamu, cintamu pada aktivitasmu yang sibuk dan populis sehingga begitu sering kau lupakan AKU.. Wahai hambaku, andai kau menyadari betapa besar CINTA dan NIKMAT yang KU berikan padamu, niscaya akan kau tinggalkan segala atribut dunia itu. Tingkahmu, bicaramu, pandanganmu, pola pikirmu, persaudaraanmu, sikapmu, niatmu, semua itu akan karena AKU.. Karena CINtamu pada_KU.."

SADARKAH KITA WAHAI SAUDARAKU? BAHWA CINTA ITU. CINTA ALLAH TERHADAP DIRIMU ITU BEGITU AGUNG DAN BEGITU MULIA. MASIHKAH KITA INGIN MENGINGKARI NIKMATNYA? MELUPAKAN IA SAAT BAHAGIA, TERSEOK-SEOK MEMINTA-MINTA JIKA TERTIMPA MUSIBAH, ATAU BAHKAN MEMAKI-MAKI DIRI_NYA.

TAPI AKU TAHU, KITA TAHU, BAHWA DIRIMU, DIDALAM HATIMU ITU, TELAH KAU SIMPAN DENGAN LEMBUT SEBENTUK CINTA YANG HANYA UNTUK_NYA. DAN HANYA KARENA_NYA..

Cinta muliamu itu, Cinta karena_NYA..

begitupun saat ini tertumpah, karena cintaku padamu sahabatku,,adalah cinta karena_NYA..

Wallahu'alam bi showab..

Rabu, 11 Agustus 2010

Entrepreneur dalam Dakwah Pergerakan Mahasiswa


Sedikit ingin menuliskan sebuah motivasi, secercah perhatian atas semangat yang hampir luntur, dan semangat ingin berbagi. Kali ini saya(sebagai seorang Mahasiswa) ingin merangkai berbaris kalimat mengenai Entrepreneurship dalam sudut pandang cara mahasiswa dalam dakwah pergerakannya.

Senyum merekah dengan wajah merona. Hidup yang lebih luas terbentang jauh di depan mata. Saat-saat keluarga menyulap kita menjadi raja dan ratu sehari. Teman-teman menyenandungkan kegembiraan dan lukisan semangat penuh dukungan. Ah,,,indahnya, apalagi jika dibarengi dengan embel-embel “Dengan Pujian”. Ya, lengkaplah sudah.

Pikiran pun mulai terbagi, ada yang ingin melanjutkan kejenjang berikutnya, mencari kerja atau melamar seorang pujaan hatinya(ciee,ehm). Tapi tak sedikit pula militan-militan kampus yang kemudian mengkultuskan dirinya dalam gerakan dakwah yang ingin senantiasa berkecimpung didalamnya(brjuang di jalan Allah(Subhanaallah..). Tetapi kemudian kesibukan diri menuntut untuk segera membahagiakan orang tua dengan pencarian nafkah. Memang kita sudah punya peta, jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Bahkan terlalu banyak jalan sebenarnya yang tinggal kita pilih dan pilah.


”Dan Dari 10 pintu Rizqiy yang Allah buka kepada seluruh manusia, 9 pintu Rizqiy untuk para usahawan dan 1 pintu untuk karyawan.”

Al Hadits

Kewirausahaan saat ini banyak sekali diperbincangkan. Mengingat fakta yang ada bahwa rendahnya jumlah entrepreneur dan sulitnya melahirkan entrepreneur muda yang gesit dan inovatif.
Fakta ini yang saat ini terjadi di Indonesia, fakta bahwa lemahnya sumber daya manusia kita dalam memahami jiwa entrepreneurship yang sesungguhnya dan pemikiran yang terjebak pada kebiasaan masa penjajahan feodalisme yang memberikan frame pada orientasi pendidikan di Indonesia bahwa output didikan yang diharapkan adalah sebagai pekerja. Sikap menganggap status pekerja(terutama pegawai negeri) adalah priayi yang memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat semakin menambah keyakinan masyarakat untuk meloloskan anak-anak mereka hanya pada taraf pekerja, jauh dari wirausaha.
Sikap pendidikan karakter entrepreneurship ini tidak ditanamkan sejak kecil. Yaitu menanamkan sikap kemandirian, kreativitas dan inovasi diri dalam bertindak. Kebanyakan kita hanya diframe utk terus menerima dan menerima yang kemudian beroutput SDM yang hanya menerima pekerjaan tapi tidak untuk “memberi” pekerjaan.

Sesungguhnya begitu banyak ketakutan yang tidak jelas dikalangan muda , mahasiswa khususnya untuk mengembangkan diri dalam usaha menjadi seorang entrepreneur, memulai sikap menciptakan kesempatan (opportunity creator), menciptakan ide-ide baru yang orisinil (inovator) dan berani mengambil resiko dan mampu menghitungnya (calculated risk taker), tidak banyak orang yang mampu menanamkan dlm kehidupan sehari-harinya (sikap entrepreneur,2009).

Sebenarnya sudah banyak contoh di masyarakat bagaimana kesuksesan seseorang ketika dimulai dengan keyakinan diri yang cenderung untuk memulai usaha mandiri dan bertujuan untuk khalayak ramai. Kadang kita mempertanyakan hal-hal yang menjadi titik ledakan kesuksesan ini dan tidak menutup kemungkinan bagi pemula entrepreneur muda.

Tanpa kita sadari, aspek-aspek kehidupan seperti keinginan memberi, kasih sayang, empati, kepercayan dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi langkah awal yang baik ketika kita mulai membangun jiwa entrepreneur. Sebagai contoh, ketika ada seorang mahasiswa berpakaian lusuh dan culun, dengan mengenakan kacamata tebalnya kemudian datang kepadamu lalu berkata “Beri aku modal 100 dolar, lalu dengan saham itu kita akan menjadi org terkaya di dunia!”. Apa yang akan kita lakukan? mungkin kita akan langsung mengumpat-umpatnya dan menggangapnya sebagai suatu kekonyolan atau bahkan langsung pergi tanpa memberi kesempatan padanya untuk memberikan alasan. Tapi ternyata dengan ketekunannya, kegigihannya, beberapa tahun kemudian ia pun berhasil menjadi orang terkaya di dunia dengan bisnis Microsoftnya. Itulah Bill Gates, dengan usaha keras dan keyakinan atas dirinya, ia mampu mewujudkan keinginnanya.

Meskipun disini diberikan contoh seorang yg bukan Muslim, tetapi ia adalah salah satu bentuk Kuasa Allah yg dijadikan “sampel” bagi yang lain untuk terus berusaha dalam keyakinan diri. Kemudian apakah yang dilakukan Bill Gates ketika usahanya berhasil? Menurut dari berbagai sumber yang saya dapatkan, ±40% penghasilannya ia sumbangkan kepada PBB. Ia lebih suka berbicara tentang kepeduliannya terhadap kemanusiaan, ketimbang berbicara tentang penghasilan yang ia dapatkan dan keberhasilannya. Dan masih banyak lagi kisah sukses lainnya, saya rasa teman2 lebih tahu dan paham daripada saya.

Ketika kita melihat pada contoh diatas, nampaknya semua perhitungan bisnis, perilaku usaha, serta sikap profesionalisme hanya tertuju pada nilai-nilai spiritual. Nilai-nilai ini mungkin tidak mereka sadari, seperti kesederhanaan, kasih sayang yang tulus, kejujuran, kepedulian, kebersamaan, dan kesetiaan. Mereka memaknai nilai-nilai kehidupan bukan pada materi atau jumlah uang yang berhasil mereka kumpulkan, justru pada pencapaian nilai-nilai spiritual. Dimana kita memiliki perasaan yang lebih bermakna, ketika kita mampu membahagiakan dan mensejahterakan orang lain.
Tidak perlu melihat yang lain, cukup lihat satu teladan yang ini saja, kita bisa mengikuti jejak kesuksesannya secara nyata, dialah Al Quran yang berjalan, Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah seorang entrepreneur bermodal dengkul, tidak bisa baca tulis, yatim piatu, tapi bisa sukses! Beliau adalah pemimpin yang bijaksana, seorang motivator ulung. Ketika sahabat-sahabatnya disiksa kaum Kafir Quraisy, Nabi tampil sebagai motivator sehingga sahabat mampu bersabar padahal siksaan yang dihadapi sangat biadab. Hal yang tak kalah menarik adalah kerja keras Nabi dalam memasarkan “produk” (Agama). Beliau tidak malu, tidak takut gagal, tak putus asa, teguh pendirian, sabar meskipun diludahi dan dilempari batu dan kotoran unta oleh “prospek”. Kitapun akan menemui hal yang sama ketika menawarkan produk kita, usaha entrepenurship. Kita akan sangat sering menemui orang-orang seperti Abu Bakar(ditawari langsung membeli), Abu jahal(sama sekali tidak tertarik bahkan menghalangi gerakan bisnis walaupun telah ditawarkan berkali-kali), atau seperti Abu Thalib(mendukung namun tidak membeli).

Ingatlah, jarang timbul kegagalan akibat bekerja terlalu lambat atau terlalu berhati-hati. Namun kegagalan sering disebabkan karena kesalahan menilai dan persepsi atau karena gegabah dan terlalu terburu-buru. Dan ketahuilah, kesuksesan itu tidak perlu ditunggu, melainkan kitalah yang akan menjemputnya.

Pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri kita untuk hari ini. Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah hari ini yang penuh dengan ide dan perencanaan, tanpa rencana, tanpa sketsa, sebuah rumah tidak akan pernah bisa berdiri dengan baik. Lukislah sketsa hidupmu seindah mungkin.
Hiduplah apa adanya,perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berprilaku buruk terhadap kita.

Hiduplah dalam perasaan selalu diawasi Allah YangMaha Mengawasi.

Lakukan yang terbaik HARI INI dan MULAI SEKARANG JUGA!

I’M SURE THAT WE CAN!

LET’S START THE DAY WITH SMILE AND CONFIDENCE.

SALAM HANGAT, SEMANGAT, DAN SUKSES SELALU DARI PENULIS!!^__^

Jumat, 02 April 2010

UN(Ujian Nasional), Menyikapi Ranah Kontroversialmu Oleh: Multi Aliyyah Rizqiy (Kadept. Kajian Strategis dan Advokasi BEM PSIK FK UNSRI)

Ketika kita berbicara mengenai UN, Pro-Kontra selalu mewarnai pelaksanaanya. Ujian, kelulusan, kejujuran, sistem, harapan, target, kontroversial, adalah serangkaian kata-kata yang selalu menghiasi perajalanan UN maupun detik-detik saat menghadapinya. UN (Ujian Nasional) telah menjadi hal yang tidak lagi disikapi secara wajar, baik dari pihak sekolah, masyarakat dan siswanya. Pelaku pendidikan di Negara ini seakan-akan telah menjadikan UN sebagai sesuatu yang mesti sukses keseluruhan tanpa adanya ketimpangan, siswa diharapakan untuk lulus semua tanpa ada yang tertinggal. Begitu bermacam cara yang ditempuh ketika UN sudah diambang mata, serangkai strategi pihak sekolah menghadapi UN telah mengalihkan fungsi sekolah sebagai tempat kursus kilat.

Saat kita berbicara tentang sistem pendidikan, tidak cukup jika kita hanya menitik beratkannya pada hal penyebaran isi ajaran kepada siswa, diperlukan target, tujuan, strategi dan evaluasi dalam menempuh sebuah sistem. Ketika kita berbicara target maka diperlukan kompetensi pendidikan dalam mencapainya, diperlukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana target itu telah tercapai. UN yang berarti Ujian Nasional menempatkan dirinya sebagai standar, standar kompetensi pendidikan dan evaluasi atas isi ajar yang telah diberikan kepada siswa. Layaknya ujian sekolah biasa, yang membedakan UN dengan yang lain adalah mata pelajaran utama, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris atau sesuai dengan jurusan yang diambil. Kalaupun ke tiga mata pelajaran tersebut tidak di UN kan, tentunya akan tetap diujian sekolahkan.

Dalam hal PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) Pasal 72 Ayat 1 disebutkan bahwa siswa dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah setelah : (a) menyelesaikan seluruh program pembelajaran; (b) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan; (c) lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (d) lulus ujian nasional.

Dalam pasal itu tertera jelas bahwa UN bukanlah yang paling utama, tidak menganaktirikan mata pelajaran yang lain, untuk lulus tidak hanya tiga mata pelajaran pokok saja yang diambil, melainkan mata pelajaran sosial yang lain, untuk lulus diperlukan akhlak dan kepribadian, serta wawasan lain yang mendukung kondisi kognitif, afektif dan psikomotorik seorang siswa.

Tetapi kemudian ketika kita dikembalikan untuk melihat kenyataan yang ada, sistem itu kemudian menuntut untuk menempatakan UN ini pada hal yang luar biasa, persepsi ujian yang tidak seperti ujian biasa. Ujian nasional tidak mesti melulu dipermasalahkan, ada banyak hal yang perlu diambil sikap kritis dari kebijakannya. Sistem, sistem yang menuntut menjadikan para pelaku pendidikan menempatkan diri sebagai penghasil pendidik instan tak bermoral, mementingkan kuantitas kelulusan dibanding kualitas kelulusan.

Ketika tidak adanya kesiapan dan pemahaman yang baik, baik dari pelaku pendidikan itu sendiri maupun dari pemerintah, UN yang notabenenya sebagai ujian kompetensi siswa kemudian dijadikan sebagai patokan dan tolak ukur kelulusan utama, dijadikan momok untuk mengedepankan egoisme sekolah dibanding moral pelaksana dan siswanya.

Keinginan untuk dicap sebagai sekolah yang baik dan embel-embel membantu siswa agar bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, menuntut pelaksana bersikap curang dan banyak ‘sip-sip’an dalam melaksanakan UN itu sendiri.

Sekali lagi hal ini memacu pada sistem yang kemudian tidak dipersiapkan secara matang dan awas, sistem yang notabenenya hanya mengacu pada evaluasi tanpa memperhatikan kondisi. Ketika berkoar-koar dicanangkannya pentingnya evaluasi, lantas sedikit sekali terdengar kesiapan dan kepedulian terhadap kondisi pendidikan saat ini, fasilitas yang tidak memadai dan timpang antara satu sekolah dengan sekolah lainnya semakin membuat tanda tanya besar untuk sekedar standarisasi pendidikan secara nasional. Ketika nasib guru-guru di daerah pelosok kurang diperhatikan, ketika fasilitas tidak sesuai dengan tuntutan, ketika siswa lebih memilih untuk bermain ketimbang datang ke sekolahnya karena takut ditimpa atapnya yang sudah buruk ketika melaksanakan proses ajar mengajar.

Lantas masihkah kita peduli, peduli sedikit saja terhadap kondisi pendidikan kita saat ini. Walaupun memang ada segelintir orang yang bersungguh-sungguh dalam mengabdikan dirinya sebagai abdi pendidik jujur dan setia, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak ditemukan ketimpangan yang nyata dan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan ranah pendidikan sebagai lahan bisnis, sungguh memprihatinkan. Bukalah mata kita lebar-lebar, begitu banyak yang pendidikannya hanya bisa menilai dari sekedar persepsi, hanya mengikuti suara-suara penguntung jangka pendek tanpa memikirkan jangka panjang.

Sekali lagi, ketika tak ada yang bergerak secara nyata untuk memulai kepedulian ini, maka kondisi pendidikan di Indonesia kita tercinta akan begitu-begitu saja, selalu diwarnai konflik, ketidakadilan, kecurangan, bahkan korupsi. Saat tak ada lagi sikap mengedepankan akhlak dan nurani, saat semua sibuk dengan pembelaan diri, saat hanya ingin mengomentari tanpa memberi solusi, saat wakil rakyat dan rakyatnya tidak duduk bersama untuk mendiskusikan dan mencarikan solusi atas hal penting yang dianggap remeh ini.

Sadarkah, simbol mahasiswa yang kemudian melekat pada diri menjadi tanggung jawab dan amanah besar demi pembaharuan dan pembangunan bangsa madani, sadarkah akan mata-mata penuh harap dari adik-adik muda belia yang nuraninya menuntut kepedulian hati, menuntut kebenaran dari pemikiran idealis, peduli, netral dan pro-rakyat? Jangan egois kawan, kalaupun jika engkau tak mampu bergerak dengan tanganmu, maka sambut dengan suaramu, namun jika masih tak mampu setidaknya berbahagialah akan nuranimu yang masih peduli terhadap pendidikan yang ada pada bangsa dan negaramu.