Blog
ini ditujukan hanyalah untuk berbagi..
berbagi hal yang belum sempat terucapkan lewat kata-kata dan tertumpahkan dengan tulisan,,

Memulai jejak dalam sebuah tulisan.
Menorehkan tinta sejarah hingga ia dikenal nyata.

Sejarah kehidupan dalam sebuah bingkai.
Melompati setiap ekstase dengan semangat menyala.

Walau terkadang lampu - lampu jalanan turut menghiasi medan menuju setiap tahap kemenangan, pengharapan dan sebuah pembelajaran tentang Kebijaksanaan.

Semua tertuang untuk sebuah cerita.
Cerita hidup yang aku, kau dan kita adalah pelaku setianya.
Hingga kemudian Cahaya gemilang itu mampu kau renggut, kau peluk dengan tanganmu.

Minggu, 13 Februari 2011

Gejolak Bangsa pada Masa Transisi "Stain of Religion"

Sungguh miris keadaan bangsa saat ini. Pemerintah ibarat sosok yang berdiri dan terus duduk kemudian menyampaikan retorika melihat bangsa yang semakin terombang-ambing dan seolah dipermainkan dengan penyelewengan kasus-kasus yang sepertinya tak pernah terselesaikan.

Fungsi aparat pemerintah pun saat ini begitu dipertanyakan. Maaf, bukan ingin mencela aparat pemerintah. Mungkin karena namanya yang “aparat pemerintah” sehingga lebih getol membela mati-matian saat pemerintah “merugikan” warga dan bukan sebaliknya.

Terlihat saat aksi massa yang notabenenya berasal dari ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah atas kebijakan yang tidak mendukung warga, aparat dengan peralatan perang lengkap dan tidak tanggung-tanggung seperti gas air mata, senjata laras panjang, begitu dipersiapkan secara matang seolah-olah warga sebagai musuh utama. Lantas, saat baru-baru kemarin kerusuhan yang terjadi antar warga dan pemeluk Ahmadiyah terjadi, aparat pemerintah seolah tak dapat berbuat apa-apa, bahkan tiga korban meninggal dunia. Padahal bisa saja kejadian yang berlangsung cukup ricuh dan lama itu dihalangi oleh aparat yang senjatanya lebih berlimpah. Ini justru terkesan bahwa dalang dibalik ini semua sengaja dibiarkan, atau mungkin ditutupi dan lebih parah lagi “dilindungi”.

Terlihat bagaimana lamanya pemerintah mengusut kasus ini, aktor intelektual yang mungkin saat ini sedang tertawa melihat kebodohan pemerintah seakan terlindung dengan adanya terdakwa “miring”.

Aparat justru terlihat lebih senang menangkapi para Kiai – Kiai dibanding menangkap dalang kepemerintahan dalam kasus-kasus yang jelas sudah sangat merugikan Negara. Kasus demi kasus dipemerintahan seolah ditutupi dengan kasus-kasus baru yang dapat lebih gress dan menarik perhatian. Apalagi kalau bukan tentang hal pokok dan sensitive, terutama agama.

Pernah dahulu saya menyaksikan preman pasar digebuki dan dikeroyok massa, walau kebanyakan di TV2, karena pada realitanya ngeri juga jika harus melihat penyiksaan seperti itu di depan mata.

Kini kita kembali dibuat miris dengan pelaku-pelaku yang mengatasnamakan agama, mengatasnamakan Islam. Video yang berlangsung beberapa menit itu memperlihatkan secara jelas bagaimana warga Ahmadiyah terus dipukuli dan dilempari batu padahal keadaannya sangat memprihatinkan. Mungkin saat itu 2 korban telah meninggal, tetapi tetap saja terus dianiaya dan dilempari batu.

Lantas massa yang sebagian besar berpakaian ala santri meneriakkan Takbir, sambil terus berlaku brtutal bak binatang. Dan berlagak sebagai pembela Islam.

Astaghfirullah! Ajaran seperti apa yang sebenarnya yang mereka pakai? Ajaran Islam apa yang membolehkan sikap brutal sekeji itu?

Rasanya ingin menangis menyaksikan hal seperti ini. Menjadi pembela dan penegak Islam adalah kewajiban setiap Muslim, apalagi saat ada kata-kata penistaan terhadap agama. Siapa lagi yang meluruskan kalau bukan Ummatnya. Tetapi Rasulullah tak pernah mengajarkan kebrutalan seperti ini. Bahkan ketika ada seorang Panglima perang yang ingin membalas dendam untuk menakhlukkan Makkah dengan memakai kekerasan. Rasulullah kemudian langsung mencopot kedudukannya. Rasul pun memaafkan pelaku dan pembantaian keji pada Hamzah, paman sekaligus sahabat kecil yang amat Beliau cintai. Rasul juga menghukum Yahudi, pengkhianat perang Khandak setelah ditetapkan di pengadilan dengan jujur dan terbuka. Pernah suatu ketika Sayyidina Ali segera menyarungkan pedangnya saat berjihad karena diludahi. Beliau tak ingin berjihad karena emosi.

Mungkin saat ini Rasulullah sudah sangat bersedih jika Ia masih berada diantara ummatnya yang begitu bernafsu dengan dunia. Sudah saatnya Negara ini segera digantikan dengan generasi pengganti, generasi pilihan.

‘’Wahai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu menjadikan pimpinan mu orang-orang yang membuat agama mu jadi bahan ejekan dan permainan, yaitu diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir. Dan bertakwalah kepada allah jika kamu orang-orang beriman’

(Al-Ma’idah:57)

Ayat di atas mungkin sangat berpotensi menyulut amarah dan api emosi atas sikap pemerintah yang dinilai lamban dan kurang berhasil dalam menaungi warganya. Tetapi kemudian Allah selalu menegaskan dalam firmannya agar senantiasa bersikap lugas dan lembut dalam menyikapi segala sesuatunya. Allah pun menegaskan agar berjihad membela agama. Perang dengan perang. Tetapi sabar dan maaf adalah yang terbaik . Sabar dalam artian TIDAK LEMBEK dan LEMAH, TIDAK JUGA KERAS dan KASAR melainkan dapat menahan emosi saat marah. Berjuang maksimal melawan penindasan, berani membela yang lemah apapun resikonya, dengan ajaran dan tuntunan Rasulullah SAW.

Mohon baca ayat ini dengan seksama;

‘’ Dan balasan sesuatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal ,tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik ( kepada orang yang berbuat jahat ) maka pahalanya dari Allah SWT. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa mengindahkan kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih. Tetapi barang siapa yang bersabar dan memaafkan sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia ‘’

(Asy Syuuraa; 40-43)

Bahkan dari surah di atas berulang-ulang Allah menjelaskan bahwa sikap sabar dan memaafkan adalah yang terbaik (jika tidak ada yang setuju ,silahkan tanyakan kembali padi hati).

Lantas peran aktivis, da’i, da’iyah negeri ini terkadang begitu dipertanyakan. Entah apa yang menyebabkan peran ini terkadang tak sejalan dengan pemikiran warga yang kemudian menjadi cambuk bahkan hasutan bagi ‘’Pembela Islam’’ itu sendiri yang jelas-jelas memperjuangkan rakyat dan negaranya. Seringkali sikap berlebihan dalam menyikapi sesuatu sehingga terkadang meresahkan. Bukankah Rasulullah telah menjelaskan berkali-kali bahwa ukhuwah terhadap sesama muslim adalah wajib, dibandingkan dengan pergolakan organisasi. Dan pemahaman seolah-olah ia yang paling benar sehingga terkadang saudara seiman menjadi musuh bahkan taruhan. Berbeda kasus jika kita menangani hal seperti ini dengan pembelokan agama secara nyata. Tidak sadarkah kita bahwa aliran-aliran yang tak tahu dari mana asalnya begitu bersaburan saat ini dan mengatas namakan Islam, padahal jelas-jelas telah menyimpang . Bahwa sindikat liberal dari bangsa pengingkar Tuhan yang terus mempertahankan dan membiayai setiap kegiatan-kegiatan mereka yang bersifat ‘’Merusak Islam’’. Maka sikap da’i/da’iyah (sebagai penyampai risalah ) dirasa begitu dibutuhkan dalam hal ini.

‘’Jika mereka berpaling, maka(ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka, kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Dan sungguh, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami , dia menyambutnya dengan gembira; tetapi jika mereka ditimpa kesusahan karena perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar,) sungguh, manusia sangat ingkar (kepada nikmat).”

(Asy syuuraa: 48)

Disinilah tugas kita, para penyampai risalah. Tidaklah patut bagi kita mencampuri urusan pribadi mereka, melainkan menyampaikan apa yang sepatutnya kita sampaikan, memberikan apa yang sepatutnya kita berikan, kecuali jika hal ini sudah menyangkut tentang penistaan(pembelokan) agama dan bangsa. Itu pun ada tata caranya.

Kemudian pemerintah yang saat ini seharusnya berfungsi sebagai penyejahtera rakyatnya dan penegak hukum yang adil, lantas tak mendapat hati dan kepercayaan dari warganya karena sifat keragu-raguan dan ketidakjelasan yang seolah disengaja.

Tragedi yang baru saja terjadi belakangan memperlihatkan bahwa gagalnya pemerintah sebagai pembimbing rakyatnya. Masalah ekonomi, kemiskinan dan ketidakadilan semakin mencetak wajah penduduk yang semakin anarkis dan brutal.

Bimbingan yang benar terhadap Islam sungguh dinantikan dan menjadi hal yang sangat urgent bagi nasib bangsa kedepan. Memang sudah saatnya pemerintah mengevaluasi dirinya. Benarkah tulus dan kompeten dalam membimbing dan menyejahterakan rakyatnya? Ataukah hanya inginkan kenyamanan dalam kursi pemimpin ummat?

Kemudian sikap anarkis seperti ini menegaskan bahwa ummat ini, bangsa ini adalah bangsa yang bengis dan brutal. Jauh dari bangsa ajaran Muhammad SAW. Wallahu’alam bishowab.

Kamis, 03 Februari 2011

Saat Kata bernama Cinta hadir Menyapa Benda bernama Hati


Kisah ini kumulai saat kali pertama mengenalnya. Ya, mengenal dia. Bukan mengenal dan melihatnya secara kasat mata, tetapi segala yang dapat disebut sebagai attitude(sikap) pada hati dan pribadinya. Hm,sepertinya saat itu aku sedang merasakan hal yang tak patut dirasa pada saat yang tak tepat, tapi kan pasti melanda setiap jiwa. Ya teman, aku jatuh cinta. Kalau kata mang English sih,,I’m fall in Love..he

Ada kalanya saat cinta menyapa, dunia terasa berbeda. Seketika pun aku menjadi sangat puitis, bahkan setiap tulisan-tulisanku menyenandungkan kata-kata halus akan cinta. Tangan ini seakan terlalu terburu-buru saat kata yang bernama cinta itu menyingkap tabir hati dan menyapanya dalam diam. Aku begitu tak mengerti akan perasaan yang halus seperti ini. Terkadang aku bertanya-tanya, adakah yang mampu menyembunyikan hatinya dengan sangat rapi sehingga iblis pun tak tahu apa yang hati rasakan.

Ya, mungkin dengan diam. Mencintainya dalam diam. Dalam setiap sajak-sajak naïf yang aku senandungkan. Lirih, tak bermaksud namun menjadi bermakna. Tersirat olehku saat kebahagiaan akan cinta datang, aku tak kan pernah memaksa ataupun mengungkap hatiku pada saat yang tidak tepat. Cinta itu tetap aku hadirkan dalam qalbu sebagai penyemangat jiwa, untuk mendekatkan aku pada Sesuatu Yang Paling Tinggi.

Terkadang ada rasa cemburu, yang tak berhak aku memilikinya. Tak berhak aku atasnya. Tapi saat rasa sudah menuai benih dalam cinta, cinta tak dapat mengelak bahwa ia juga inginkan semerta-merta sang kekasih cinta.

Aku hanya meminta kebaikan, walaupun nisbi makna jika kusebut bahwa cinta itu tak perlu menghampiri hati. Hanya aku sudah terlanjut mengikat janji dengan cinta, ia menangis saat semua yang kulakukan dengan nama emosi dan nafsu bukan dengan cinta atau suara hati.

Kini kekasih cinta hanya berharap cinta kan bahagia bersama Sang Terkasih. Aku bersama Sang Kekasih Sejati kan ingin tersenyum saja. Biarkan cinta yang menjawab semuanya. Menyangsikan cinta, padahal hati melena dibuatnya. Ah cinta, kau tahu. Dalam diam, dan dalam cinta aku hanya akan berkata. Terbanglah kau disana. Aku tahu, kau punya cara, dan aku pun punya rencana. Aku takut bila harus menuliskan jika cinta tak harus memiliki. Ada rasa ego dan ingin menang saat menggapai cinta.

Biarkan ia mengalir, biarkan cinta malu-malu pada kesimpulannya sendiri. Tak ada harapan akan cinta, tak ada harapan pembalasan rasa. Hanya inginkan bersyukur saja, atas cinta yang merembes dalam cangkir-cangkir penadah gundah. Aku tahu akan segala rencana, biarkan pena ini menuliskannya dalam sejarah cinta. Toh ia akan mengalir dalam gangga-gangga maya sang pemikat jiwa.

Biarkan cinta tersenyum akan pemikirannya, karena ia bersemi bukan pada musimnya. Ia hadir bertaut bahkan saat hati tak pernah siap ingin menyambutnya. Maka, aku katakan pada cinta. Aku akan benar-benar menyambutmu saat kau dan aku tahu, saat cinta berkata tanpa batas, tanpa hijab, tanpa tersekat lorong waktu. Biarkan ruang dan waktu yang menyisakan jarak cinta menjawab kata cinta dengan diamnya.

Maka bersyukurlah jiwa saat cinta hadir dan berlabuh pada jiwa yang juga melabuhkan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta. Tak ada noda, tak tersirat nista. Biarkan ia tetap suci, sesuci cinta apa adanya. Kan ada kalanya cinta harus jujur pada keterangannya. Ada kalanya cinta melabuhkan hatinya pada yang dipercaya.

Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya.
Cinta itu lebih abadi dari pada cinta biasa.
Semoga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga.

Rabb_ku, Biarkan cinta ini Mulia. Biarkan ia menjadi fitrah dengan keadaannya. Biarkan ia hadir dengan rasa syukur tak terkira. Aku tak kan pernah menolak cinta. Apalagi Cinta yang sejak dulu Kau anugerahkan kepadaku. Segala Cinta-Mu yang memberikan Ruh dalam Nafas kehidupanku. Maka jagalah aku dalam Cinta_MU, dan dalam keyakinan_MU. Hingga sampai saat aku kan berucap pada yang kemudian Kau takdirkan untukku,,, Ya Cinta..Aku Mencintaimu apa adanya, karena Mencintaimu adalah anugerah dalam Mencintai_NYA..

Yang sedang dilanda cinta dan bersyukur karena IA menarik kembali hatinya kedalam kubangan lumpur Cinta Sang Pemilik CINTA Sesungguhnya..:)

Senin, 24 Januari 2011

Mengapa Rasulullah selalu Sehat Selama Hidupnya?? mau tau.....??.nih dia rahasianya!!


Selama ini kita mengenal dua bentuk pengobatan. Pengobatan sebelum terjangkit penyakit / pencegahan ( At thib Al wiqo`i), dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al `ilaji). Nah, dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan. (attadawi bil ghidza`). Ini tentu jauh lebih baik daripada kita harus “berhubungan” dengan obat-obat kimia.


Dalam setiap aktifitas dan pola hidupnya, Rasulullah memang sudah disiapkan untuk menjadi contoh teladan bagi semua manusia., termasuk dalam hal pola makan. Memang sih, hanya urusan makanan. Tetapi kalau dengan pola makan tersebut, Rasulullah kemudian memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan sanggup mengalahkan para pegulat, tampaknya kita harus mikir lagi untuk mengatakan hanya. Ini bukan perkara remeh. Sebab salah satu faktor penting penunjang fisik prima Rasulullah adalah kecerdasan beliau dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsinya.

Hal pertama yang menjadi menu keseharian Rasulullah adalah udara segar di subuh hari. Sudah umum di ketahui bahwa udara pagi kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain. Ini ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktifitasnya selama sehari penuh. Maka tidak usah heran ketika kita tidak bangun di subuh hari, kita menjadi terasa begitu malas untuk beraktifitas. Selanjutnya rasulullah menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya.

Lepas dari subuh, Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al qur`an, kata “syifa” / kesembuhan, yang dihasilkan oleh madu, diungkapkan dengan isim nakiroh, yang berarti umum, menyeluruh. Di tinjau dari ilmu kesehatan, madu befungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. Dalam istilah orang arab, madu dikenal dengan “al hafidz al amin”, karena bisa menyembuhkan luka bakar.

Masuk waktu dluha, Rasulullah selalu makan tujuh butir kurma ajwa`/matang. Sabda beliau, barang siapa yang makan tujuh butir korma, maka akan terlindungi dari racun. Dan ini terbukti ketika seorang wanita yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah dalam sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Bisyir ibnu al Barra`, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut, akhirnya meninggal. Tetapi Rasulullah selamat.

Apa rahasianya? Tujuh butir kurma!

Dalam sebuah penelitian di Mesir, penyakit kanker ternyata tidak menyebar ke daerah-daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi kurma. Belakangan terbukti bahwa kurma memiliki zat-zat yang bisa mematikan sel-sel kanker. Maka tidak perlu heran kalau Allah menyuruh Maryam ra, untuk makan kurma disaat kehamilannya. Sebab memang itu bagus untuk kesehatan janin.

Dahulu, Rasulullah selalu berbuka puasa dengan segelas susu dan korma, kemudian sholat maghrib. Kedua jenis makanan itu kaya dengan glukosa, sehingga langsung menggantikan zat-zat gula yang kering setelah seharian berpuasa. Glukosa itu suadah cukup mengenyangkan, sehingga setelah sholat maghrib, tidak akan berlebihan apabila bermaksud untuk makan lagi.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah selanjutnya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja bukan cuma cuka dan minyak zaitunnya saja, tetapi di konsumsi dengan makanan pokok, seperti roti misalnya. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang dan kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan memperlancar pencernaan. Ia juga berfungsi untuk menncegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.


Ada kisah menarik sehubungan dengan buah tin dan zaitun, yang Allah bersumpah dengan keduanya. Dalam alquran, kata “at tin” hanya ada satu kali, sedangkan kata “az zaytun” di ulang sampai tujuh kali. Seorang ahli kemudian melakukan penelitian, yang kesimpulannya, jika zat-zat yang terkandung dalam tin dan zaitun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1:7, maka akan menghasilkan ”ahsni taqwim”, atau tubuh yang sempurna, sebagaimana tercantum dalam surat at tin. Subhanallah! Syaikh Ahmad Yasin adalah salah seorang yang rutin mengkonsumsi jenis makanan ini, sehingga wajarlah beliau tetap sehat, kuat dan begitu menggentarkan para yahudi, meskipun lumpuh sejak kecil. Kalau saja beliau tidak lumpuh, barangkali sudah habis para yahudi Israel itu.


Di malam hari, menu utama Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, belaiau selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. Anda kenal nama tersebut? Di mesir, kata Dr. Musthofa, keduanya mirip dengan sabbath dan ba`dunis. Masih tidak kenal juga? Dr. Musthofa kemudian menjelaskan, secara umum sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu memperkuat daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Jadi, asalkan namanya sayuran, sepanjang itu halal, Insya Allah bergizi tinggi. Maka, para penggemar kangkung dan bayam tidak usah panik. Para pedagang tauge juga tidak perlu pindah haluan. OK?


Disamping menu wajib di atas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya. Diantaranya tsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Jadi ya kira-kira seperti bubur ayam begitulah. Kemudian beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu manis, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian beliau juga senang makan anggur dan hilbah.


Sekarang masuk pada tata cara mengkonsumsinya. Ini tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Sebab setinggi apapun gizinya, kalau pola konsumsinya tidak teratur, akan buruk juga akibatnya. Yang paling penting adalah menghindari isrof, atau berlebihan. Kata Rasulullah, “cukuplah bagi manusia itu beberapa suap makanan, kalaupun harus makan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya” (al hadis). Ketika seseorang terlalu banyak makanannya, maka lambungnya akan penuh dan pernafasannya tidak bagus, sehingga zat-zat yang terkandung dalam makanan tersebut menjadi tidak berfungsi dengan baik.

Imbasnya, kondisi fisik menjadi tidak prima, dan aktifitaspun tidak akan maksimal. Dr. Musthofa menekankan bahwa assyab`u ,yang berarti kenyang itu bukan al imtila` , atau memenuhi. Tetapi kenyang adalah tercukupinya tubuh oleh zat-zat yang dibutuhkannya, sesuai dengan proporsi dan ukurannya. Jadi ini penting; jangan kekenyangan!


Kemudian Rasulullah juga melarang untuk idkhol at thoam alatthoam, alias makan lagi sesudah kenyang. Suatu hari, di masa setelah wafatnya rasulullah, para sahabat mengunjungi Aisyah ra. Waktu itu daulah islamiyah sudah sedemikian luas dan makmur. Lalu, sambil menunggu Aisyah ra, para sahabat, yang sudah menjadi orang-orang kaya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam-macam. Aisyah ra, yang mendengar hal itu tiba-tiba menangis. “apa yang membuatmu menangis, wahai bunda?” tanya para sahabat. Aisyah ra lalu menjawab, “dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”. Dan penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya berjenis-jenis makanan dalam perut telah melahirkan bermacam-macam penyakit. Maka sebaiknya jangan gampang tergoda untuk makan lagi, kalau sudah yakin bahwa anda sudah kenyang.


Yang selanjutnya , rasulullah tidak makan dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan yang dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam satu waktu dan juga tidak langsung tidur setelah makan malam, karena tidak baik bagi jantung. Beliau juga meminimalisir dalam mengkonsumsi daging, sebab terlalu banyak daging akan berakibat buruk pada persendian dan ginjal. Pesan Umar ra ” Jangan kau jadikan perutmu sebagai kuburan bagi hewan-hewan ternak!”. Ayam, kambing, lembu, kerbau semuanya masuk. Kan kasihan tuh, tetangga nggak kebagian. Hehehe… nggak ding! Maksudnya itu tidak baik bagi kesehatan.


Jadi begitu, saudara-saudara. Ini barangkali baru sedikit. Masih banyak pola hidup sehat ala Rasulullah yang bisa kita pelajari. Kali ini, Dr. Musthofa memang khusus membahas menu makan dan cara mengkonsumsinya. Dari sini kita bisa tahu bahwa ternyata Rasulullah sangat memperhatikan masalah gizi dan menu makanan. Dan di tengah mengaburnya semangat untuk mengikuti sunnah rasul, ini bisa menjadi spirit untuk memulai menghidupkannya kembali. Apalagi menu-menu tersebut terbukti bisa dipertanggungjawabkan secara kesehatan. Nah, masih kurang ilmiah?



(disarikan dari Ceramah Umum “ghidza`unnabi” oleh Prof. Dr. Musthofa Romadlon di Wisma Nusantara, Kairo. Mesir) tulisan ini ditulis oleh Muhammad As’ad Mahmud, Lc.



sumber: http://kiatsehat2010.blogspot.com/2010/08/mengapa-rosulullah-selalu-sehat-selama.html

Kamis, 06 Januari 2011

Biasakanlah hati untuk menata diri pada Cinta yang benar..kawan..

Cinta, tak bisa bosan atau pun mengelak pada hal yang tak dapat dihitung, tak dapat dibagi-bagi. walau pun pada kenyataannya terbagi, tapi mendapat tempat khsus setiap bedengnya.

Begitupun dengan hati, yang memiliki seribu alasan dan memisahkan kompromi dengan realita saat keidealismean cinta menuai di qalbu, lalu perlahan menaburkan sajak-sajak dan bunga-bunga surga milik langit.

yah,jika kau pernah tahu. Merombak hal yang tak sistematis, ia kacau, berantakan. Masih ingat cerita Sang Sanguinis? Ia membangun menara dengan seenaknya, dengan sebebas imajinasinya, tak tahu ukuran tanah,ketepatan bata, sehingga menara itu miring dibuatnya. ya, tapi apa yang terjadi kemudian adalah bahwa menara miring itu kemudian menjadi luar biasa, bahkan dunia pun mengakuinya.

Sama halnya dengan sajak-sajak buta Sakhesphere. Mengagunggkan sesuatu dengan aroma kematian.

Itulah Cinta, mengungkapkan sebuah kepekaan hati pada imajinasi dan melukiskannya pada realita.

Tapi sajak Cinta yang ingin kuhadirkan disini adalah sajak berbeda. Sajak kecintaan Kalau kita sudah terbiasa menata hati untuk cinta yang benar. Cinta yang memang seharusnya dimiliki dengan kesungguhan, Tauhid Illahiah.

Menunggumu sejenak seakan berpisah pada sajak keagungan abadi, menyiksa hati dan diri walau tiada benci,, melainkan kekaguman tingkat tinggi yang menembus dinding-dinding langit hati.

Terkadang rasa cemburu tak pernah dirasa, saat Sang Maha Cinta meletakkan kecemburuan_NYA padamu saat kau mencintai yang lain.

Terkadang renungan membuatmu menangis karena rasa sayang sederhana yang IA berikan padamu.

IA dengan tangan_NYA meletakkan cinta dihati_MU, tapi bukan untuk memuja yang lain,,melainkan IA hanya cukup kau mencintai-NYA saja,, dan meyakini akan segala keputusan_NYA.

walau kemudian IA memberikan hak sepenuhnya pada_MU untuk mengukir segala rencanamu di garis edar imajinasimu.

Dan memang kehidupan itu adalah milik_NYA yang IA hadiahkan padamu.

Karena memang bukan IA tahu, tapi tlah IA rangkai lebih dulu, segala rencana Indah_NYA, telah IA siapkan untukmu, maka saat aku mencoba mengukir Cinta. Kubiarkan ia menghiasi jiwa sebagai bentuk syukur pada_MU, tanpa menggeser kata satu, tanpa merubah kata Tauhid Cinta yang hanya kepada_MU..

Memang menata cinta yang benar butuh perjuangan. Tetapi justru itulah hakekat kehidupan : memperjuangkan cinta untuk selalu proporsional. Yaitu, cinta tertinggi kepada Allah, rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. Lalu cinta-cinta lainnya harus berada di bawah ketiga hal tersebut, sehingga kemauan Allah dan Rasul-Nya kita utamakan lebih dari kemauan apa dan siapa yang kita cintai.

Allah,,, Kau Maha Tahu..

dan aku pun tahu, telah kau berikan aku pengetahuan agar aku tahu bahwa keyakinanku atas janji-janji dan hadiah indah_MU kan selalu menghias jiwa dan hatiku..

Jiwa dan hati orang-orang yang senantiasa menyerahkan Ruhnya padamu..

Biarkan daun itu melepas dirinya dari genggamanmu. peganglah ia bak pasir,, jika terlalu kuat, maka ia akan habis, jika terlalu lemah maka ia akan disapu angin. Peganglah ia bak pasir... Ia kan fitrah saat datang dan perginya pada dirimu..

tapi tak selayak Imanmu yang kokoh bersembunyi dalam tambang yang dalam,,ditempa begitu keras hingga menjadi Intan. Tak roboh, tak pecah dihadang angin, batu, dan lahar. Tetapi justru menjadi sesuatu yang sangat berharga, ia tak diwarisi, berdiri sendiri, dan milik segala hati yang Terhimpun dalam Cahaya Rabbi..

Minggu, 05 Desember 2010

SURAT CINTAKU UNTUKMU YANG KUCINTAI, DEWAN KEHORMATAN, PARA WAKIL RAKYAT


Ketika ditanyakan dengan apa aku menulis ini semua. Maka aku akan menjawab dengan air mata. Tidak hanya air mata yang bermuara pada pemilik tulisan ini, tapi berjuta-juta air mata diluar sana yang menuntut keadilan, menuntut kebenaran, mengambil haknya sebagai rakyat yang menggaji para penikmat kekuasaan.

Entah apa yang ada dipikiranmu saat ini, entah apa lagi yang kau kejar saat ini, mengaku pembela mengaku wakil. Mengaku penyampai aspirasi?? BOHONG!! Sekali lagi saya katakan itu BOHONG!

Kalau engkau mengaku berpihak pada rakyat, kalau engkau mengaku sang wakil rakyat, kalau engkau menghidupi diri dan keluargamu dengan uang rakyat. Lalu kenapa sampai saat ini kau masih sampai hati sakiti rakyat. Tahukah kau yang terjadi dibawah kakimu saat ini? Mungkin kau tak berniat ingin tahu, atau kau tahu tapi menutupi telingamu dengan headseat sutramu?

Yah, malam ini, mungkin kau sedang mendengarkan alunan music country atau dangdut country sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menikmati jamuan Italy dipinggir laut yang diiringi semilir lembut angin malam. Makananmu taraf internasional, yang tanpa kau sadari membuat perutmu semakin besar, semakin tak sehat, dipenuhi lemak dan kolestrol(ah, aku tak bermaksud menyinggung perutmu disini). Bahasamu bahasa sastra poitik tinggi, begitu luar biasa ketika rakyat awam seperti kami mendengarnya. Bagai corpus alineum (benda asing)ditelinga, tak ayal kemampuan Public speakingmu tingkat tinggi, sampai berkedip saja penuh arti. Ya, memang kau sosok luar biasa. Lewat kata-kata kau mampu menyihir segala, memberi harapan-harapan palsu, manis-manis kucing liar.

Aku tak sedang memujimu, aku hanya sedang prihatin dengan keadaanmu saat ini. Perutmu yang semakin membesar, rambutmu yang semakin memutih. Istrimu yang cantik dan anak-anakmu yang kau nafkahi. Tapi pernahkah kau menyadari, bahwa nafkah yang kau berikan kepada mereka adalah hasil sumpah, hasil kutukan rakyat yang muak akan segala janji-janji dan kesombonganmu. Apakah kau sadar, setiap uang yang dikeluarkan untuk membangunmu adalah uang rakyat? Uang sekelompok manusia yang kau asingkan, yang kau sakiti berulang-ulang kali??

Aku ingin sedikit berkisah denganmu, pada malam biasa, aku melewati daerah yang seringkali kulewati ketika hendak pulang kerumah, waktu itu di Jakarta, tempat temanku. Aku senang melihat hingar bingar malam Jakarta. Lampu berwarna-warni menghiasi dinding kota. Arus trafficking yang sangat padat, menandakan aktivitas yang tak berhenti dan terus 24 jam. Seketika menaiki jembatan penyeberangan, banyak sekali gelandangan terlantar, tidur beralaskan Koran. Tak mengapa jika ia pria gagah, sudah garis hidup menuntut ia giat bekerja. Tapi aku sedih dan menangis ketika seorang ibu dengan bayinya yang merah harus merasakan dinginnya malam karena tak berumah. Rumahnya sudah dijadikan gedung-gedung tinggi tanpa solusi. Ia diusir, dalam kerasnya kehidupan dan zaman. Jika masih seperti itu, lima tahun ke depan, anaknya akan menjadi sahabat setia jalanan. Diajarkan cinta ibu pertiwi dengan caranya. Ia tertawa, karena begitulah hidupnya, ia tak pernah tahu bagaimana seharusnya hidup mengajarkannya. Bagaimana seharusnya tempat yang layak untuk dirinya. Argh..

Atau kau tahu yang terjadi dengan teman-temanku, saat ia bersama-sama memperjuangkan wanita-wanita, anak-anak yang akan diperdagangkan keluar negeri. Seperti barang. Aku, mereka, dan semua yang tahu akan hal ini terkejut, karena ada campur tangamu dibalik ini semua.

Sama halnya dengan pendidikan dan kesehatan, atas nama kesejahteraan kau gadaikan rakyat. Hal yang pokok kau komersialisasikan. Berdalih dengan kata-kata dan kuasa, Neoliberal yang kau bawa sudah sangat Nampak di depan mata! Tapi aku sudah pasti mengira. Setiap pertanyaan, pendapat dan opini rakyat justru kau tertawakan. Kau malah berdalih dengan menyalahkan, seolah-olah kaulah yang paling hebat dan berkuasa. Kaulah yang paling pintar, padahal sesunguhnya kau telah dibodoh-bodohi dengan kekuasaan dan uang.

Mungkin kau akan berteriak kesana kemari, atau pura-pura sakit, atau mungkin pura-pura mati suri, saat tuduhan itu terbukti padamu. Apalagi yang akan kau kuras dari rakyat? Uangnya sudah sangat banyak kau ambil dan kau permainkan tanpa rasa tanggung jawab. Atau kau saat ini telah sadar? Sehingga merajuk-rajuk ingin study banding etika ke negeri Roma? Etikamu bukan pada sosok sehebat apapun diluarmu. Tapi pada dirimu sendiri, etikamu adalah hak prerogativemu. Etikamu adalah kewajibanmu pada rakyat. Mungkin hanya kursi yang kau tanam dalam hatimu. Pernahkan kau menangis dan memikirkan betapa beban dan amanahmu sebagai wakil rakyat adalah hal yang luar biasa yang dianugerahkan Tuhan padamu? Pernahkah kau menangis dalam shalatmu saat memikirkan rakyat-rakyatmu? Ah, mungkin dengan Tuhan pun kau mulai angkuh dan sombong, sehingga mudah bagimu untuk membohongi, menipu, mementingkan pribadi dan kekayaanmu. Lupa, lupa pada Penciptamu yang selalu melihatmu, mengawasimu, mengingatkanmu dan menegurmu saat kau lalai, egois, dan nakal? Memberikan nikmatNYA yang begitu berlimpah sehingga banyak yang mencemburuimu. Sungguh sayang, cintaNYA padamu kau hargai dengan cinta dunia. Oh, aku tak ingin berprasangka. Aku hanya ingin dan berdoa agar kau diberikan kelapangan hati, keteguhan jiwa, sikap dermawan, sikap mengayomi, sikap adil, bijaksana, sederhana, cerdas, berpihak pada rakyat. Tahukah, aku tak ingin muluk-muluk,jika pada kenyataannya kau tak mampu, setidaknya kau tidak melupakan rakyat dan Tuhanmu. Walaupun sesungguhnya aku begitu sedih,, karena harapan Umar, Abu Bakar, Ali, Muhammad tak pernah kulihat dalam dirimu. Aku sedih dan kecewa, walaupun aku tahu dan percaya. Allah, Tuhanku, Tuhanmu selalu ada, tak kan pernah tinggal diam, membimbing kau yang akan berevolusi menjadi tangan rakyat sejati? Atau kau hanya akan tinggal nama dalam sumpah dan kutukan, yang kemudian akan digantikan oleh generasi-generasi terbaik.

Wallahu’alam bishowab.

Selasa, 16 November 2010

Memaknai Ied Adha dalam kisah Ibrahim AS dan Ismail AS


Hari pengorbanan itu tiba, hari berbagi, hari penuh cinta..

apa sesungguhnya maksud Allah memerintahkan Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Ismail AS?

Selama ini mungkin kita hanya mengenal hakikat berqurban secara makna umum, secara harfiyah.

Tetapi kemudian, pernahkah kita benar-benar meneladani dan memahami secara mendalam maksud dari perintah Allah ini?

Mari sejenak kita ulas kembali kisah tauladan yang begitu indah ini..

***

Sudah begitu lama Ibrahim menantikan kehadiran seorang anak. tapi tak kunjung hadir jua. Dalam penantiannya, justru Ibrahim semakin dekat dan semakin cinta kepada Allah. Sekian puluh tahun menanti, akhirnya doa mereka terjawab juga. Allah dengan limpahan kasih dan Rahmat_NYA menganugerahkan mereka setitik cahaya mutiara yang nantinya akan selalu bersinar dan akan menjadi penerang qalbu ayah ibunya. Dialah Ismail, seorang bayi tampan nan mungil yang sangat disayangi keluarganya atas rasa syukur yang tak hingga.

Tak sampai minggu dari kelahiran Ismail, Ibrahim pun mendapat perintah dari Allah untuk segera berperang, berjuang di jalan Allah.

Disaat kepergiannya, Ibrahim dengan hati yang sangat berat meninggalkan istri dan anaknya yang baru saja dilahirkan ke dunia, tetapi di lain sisi ia begitu mencintai Allah, Rabbnya. Ibrahim pun terus pergi, menapak meninggalkan rumah.

"Duhai suamiku, duhai suamiku!" Siti Hajar terus menerus memanggil-manggil Ibrahim, tetapi ia tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun.

"Duhai suamiku, kemana engkau hendak pergi?" panggil Siti Hajar berkali-kali, tetapi Ibrahim tetap saja pergi tanpa meninggalkan satu patah kata pun. Hatinya sudah terlalu berat untuk menolehkan muka kepada istrinya.

"Duhai suamiku, jika engkau pergi karena Allah, Maka pergilah! Berjuanglah! Istri dan anakmu disini akan senantiasa mendoakanmu!" bergetar suara Siti Hajar, kemudian Ibrahim pun menoleh dengan suara yang tertahan dan terserak air mata.

"Duhai istriku, Benar.. Aku akan pergi memenuhi panggilan jihadNYA. Baik-baiklah kau dengan anak kita." Ibrahim pun cepat-cepat memalingkan muka dan meneruskan perjalanannya dengan hati hancur, tetapi kecintaan yang begitu besar terhadap Rabbnya.

**

Bertahun-tahun dilalui, Ismail menjadi sosok pemuda cilik yang sehat dan pemberani. Suatu hari, tiba saat kepulangan Ibrahim. Istrinya yang melihat Ibrahim langsung menyambut dan menyalami tangannya dengan begitu hormat.

"Suamiku, kau sudah pulang kembali. Aku sangat bahagia"

"Begitu juga dengan aku duhai istriku.. istriku, bagaimana keadaan anak kita? dimana ia?"

"Segera kau temui ia. Ismail sedang bermain di halaman depan" tunjuk Siti Hajar kepada seorang anak yang tampan di halaman depan rumahnya.

tak sabar Ibrahim menanti-nanti saat-saat pertemuan itu. Ia pun segera berlali menemui anaknya.

"Anakku Ismail. Ini ayah pulang nak.. ayah pulang.." Ibrahim lalu memeluk anaknya dengan terisak.

"Ayah. Anda benar-benar ayahku?" tanya Ismail

"iya anakku,, ini ayahmu nak. Ayah sudah pulang nak.. Ayah sangat merindukanmu anakku.." Ibrahim memandangi wajahnya yang lugu. Ismail pun tersenyum dalam haru

"ayah. Engkau telah pulang ayah. Aku juga sangat merindukamu ayah.." Isak Ismail dan memluk Ibrahim semakin erat dengan linangan airmata.

**

Baru sehari dilaluinya, Ibrahim kemudian bermimpi. Ia berimpi bahwa Allah memerintahkan padanya untuk menyembelih anaknya, Ismail.

Ibrahim pun terbangun dan menangis. Ia tak bisa membayangkan kalau in benar-benar perintah Allah. Ia ragu apakah ini adalah perintah Allah ataukah syaitan yang masuk dalam mimpinya.

"Ya Allah..jika ini benar dan memang perintahmu. maka ulangi lagi mimpi itu dalam tidurku.." pinta Ibrahim dalam setiap shalatnya.

tetapi kemudian Ibrahim bermimpi hal yang sama, ia pun berdoa kembali

"Ya Allah,, jika sekali ini kau hadirkan mimpi yang sama kembali pada tidurku. Maka aku akan benar-benar yakin bahwa ini adalah perintah dariMU.."

untuk ketiga kalinya, ternyata Ibrahim tetap bermimpi hal yang sama. Hatinya menangis, ia pun bingung, memohon kepada Allah agar diberi kekuatan menyampaikan hal ini pada anaknya, walau dengan hati yang sangat pilu. kemudian datanglah waktu saat Ibrahim berdua saja dengan Ismail.

"Anakku, ayah telah mendapatkan mimpi, ayah telah meminta petunjuk padaNYA berkali-kali, dan dihadirkan mimpi yang sama. Ayah tahu ini adalah perintah Allah dan ayah ingin meminta pendapat darimu" dengan lembut Ibrahim berkata pada Ismail.

"Apakah hal itu ayah. katakanlah"

"anakku... ayah mendapat perintah dari Allah,, untuk menyembelihmu anakku. bagaimana pendapatmu?" Ibrahim dengan suara tertahan dan hendak mencucurkan air mata tak tertahan saat melihat wajah anaknya.

"ayah...jika engkau yakin itu memang perintah dari Allah, maka laksanakan ayah. laksanakanlah..!"dengan mata berkaca-kaca Ismail meyakinkan ayahnya

"tapi ada satu syarat ayah.."

"apa itu anakku.."

"saat ayah hendak menyembelihku nanti, maka lepaskanlah bajuku.. aku tidak sanggup membayangkan jika ibu melihat lumuran darah dibajuku nanti.."Ibrahim yang terkejut menyaksikan jawaban anaknya, langsung memeluk anaknya erat.

**

Ibrahim dan Ismail berjalan berdua, sengaja mereka memilih tempat yang sepi dan diatas bukit. Agar hanya Allah yang menyaksikannya. Ibrahim membawa pedang yang sangat tajam, agar anaknya tidak merasakan sakit yang terlalu lama saat hidupnya. sesampai di puncak bukit, Ibrahim pun membaringkan Ismail di dekat pangkuannya. Dilepaskannya baju anaknya perlahan.

" Ya Allah... Saksikan Ya Allah.. saksikan.. Kami penuhi perintahmu Ya Allah. Aku penuhi perintahmu karena aku lebih cinta padaMU Ya Allah.." Ibrahim pun menangis, pedang diangkatnya dan hendak mengenai leher anaknya yang halus. Tiba-tiba langit bergemuruh dan terdengar suara

"Wahai Ibrahim!! Aku telah menyaksikanmu.. Aku telah memberikan ujian padamu berupa anak yang kelak akan menggantikanmu. Aku ingin melihat apakah cintamu kepada yang lain melebihi cintamu kepadaKU.."

seketika Ibrahim pun tersungkur dan bersujud. Ia menangis sejadi-jadinya.

"Ya Allah,, telah engkau saksikan Ya Allah.. bahwa aku sangat mencintaimu Ya Allah..Aku sangat mencintaiMU.. maafkan aku Ya Allah, maafkan aku.."Ibrahim terisak dalam sujudnya.

Ismail pun kemudian digantikan Allah dengan hewan sesembelihan. Yang kemudian menjadi hewan qurban atas rasa syukur pada Rabbnya...

- - - - - - - - - - -

Saudara-saudara seiman yang kucintai karena Allah... telah lama kita dapati makna sesungguhnya dari berkurban. Makna sesungguhnya saat cinta dunia tergadaikan dengan cinta yang hanya kepadaNYA..

Kita tahu dan kita paham, selama ini yang dilakukan hanyalah sebatas berkurban, menyembelih hewan, kemudian membagi-bagikannya dengan orang-orang yang memang layak mendapatkannya.

Terkadang saat hari suci itu dirayakan, maka akan banyak dan bertaburan peluang kita untuk bersedekah, berbagi, pada sanak saudara kita yang sedang kesusahan diluar sana..

Tapi sadarkah kita makna sesungguhnya dari berqurban ini?? Mungkin sedekah kita sudah baik, amalan kita sudah banyak. Tapi terkadang kita lupa, lupa pada CINTA AGUNG yang hanya untuknya.

Banyak cinta-cinta di dunia yang justru melenakan dan mengajak kita untuk jauh kepadaNYA. Cinta dunia yang membuat Allah begitu dan terlalu sering untuk cemburu..

Betapa sering dan tanpa disadari kita telah menyakiti Yang Paling berhak atas kita, bahkan sangat sering membuatnya cemburu.

Padahal begitu banyak nikmat yang IA hadirkan, RahmatNYA tak pernah putus dan selalu mengalir pada kita. Jika saat ini mata yang indah itu IA ambil dari dirimu, apa yang hendak kau lakukan? Jika hidung yang bagus itu ia ambil sehingga tak dapat kau rasakan segarnya udara pagi, apa yang hendak kita lakukan. Bukanlah hanya sebtas pengandaian, jika ini benar-benar terjadi pada dirimu. Akankah kita akan terus merasa hebat, merasa gagah, merasa pintar, merasa baik tanpa Rahmat dan Bantuan dariNYA??

Kita terlalu disibukkan dunia, yang padahal Allah lah yang menganugerahkan semua itu, memberikan semua itu pada hamba yang sangat IA cintai, walaupun hambaNYA sering menyampakkan IA..

prnahkah kita memahami betapa Allah cinta dan sayang pada hambaNYA...

Mudah-mudahan iya..

Saksikan, renungkanlah duhai sahabatku, jika Allah suatu ketika menyampaikan sesuatu padamu... sesuatu yang mungkin setiap hari IA sampaikan tanpa kita sadari..

...

"Wahai hambaKU, setiap subuh bahkan sepertiga malam AKU menungguimu. memperhatikan dirimu berangkat dari tempat tidurmu. AKU sangat berharap kau bangun kemudian menyapaKU, memohon kepadaKU dengan segenap cintamu,, tapi lagi-lagi tak pernah KU dapatkan itu. Kau lebih memilih menarik selimut tebalmu,,yang kau tahu? adalah salah satu nikmat dariKU.

Wahai hambaku,, Lihatlah dunia lain diluar dirimu. Bencana ku tampakkan padamu, agar kau tahu, kau sadar, bahwa aku masih sangat menyayangimu, aku masih ingin kau bertaubat dan menebar kebaikan pada sesamamu, pada alam dan lingkunganmu. walau AKU harus terus bersabar akan cinta yang tak pernah kau letakkan di hatimu.

Aku tahu, ada sedikit cinta itu, tapi tak sebesar cintamu pada Dunia, cintamu pada uang, cintamu pada kekasihmu, cintamu pada istrimu, cintamu pada anakmu, cintamu pada orangtuamu, cintamu pada aktivitasmu yang sibuk dan populis sehingga begitu sering kau lupakan AKU.. Wahai hambaku, andai kau menyadari betapa besar CINTA dan NIKMAT yang KU berikan padamu, niscaya akan kau tinggalkan segala atribut dunia itu. Tingkahmu, bicaramu, pandanganmu, pola pikirmu, persaudaraanmu, sikapmu, niatmu, semua itu akan karena AKU.. Karena CINtamu pada_KU.."

SADARKAH KITA WAHAI SAUDARAKU? BAHWA CINTA ITU. CINTA ALLAH TERHADAP DIRIMU ITU BEGITU AGUNG DAN BEGITU MULIA. MASIHKAH KITA INGIN MENGINGKARI NIKMATNYA? MELUPAKAN IA SAAT BAHAGIA, TERSEOK-SEOK MEMINTA-MINTA JIKA TERTIMPA MUSIBAH, ATAU BAHKAN MEMAKI-MAKI DIRI_NYA.

TAPI AKU TAHU, KITA TAHU, BAHWA DIRIMU, DIDALAM HATIMU ITU, TELAH KAU SIMPAN DENGAN LEMBUT SEBENTUK CINTA YANG HANYA UNTUK_NYA. DAN HANYA KARENA_NYA..

Cinta muliamu itu, Cinta karena_NYA..

begitupun saat ini tertumpah, karena cintaku padamu sahabatku,,adalah cinta karena_NYA..

Wallahu'alam bi showab..